Posted by: arumchan | September 23, 2012

A Silver Lining For Every Cloud

Ramadhan 2012, hari puasa ke-9, hari Minggu.

Pulang dari Jakarta, kami mendapati rumah kami sudah dibobol maling. Innalillahi wa innailaihi roji’un.

Our most valuable possesion taken: ISI laptop kami berdua… foto & video anak2 yang belum sempat ter-back-up semua, data2 penelitian. Nggak ada harganya bagi yang mengambil, namun itu kenangan2 keluarga kami dan hasil kerja keras penelitian suami— tak akan tergantikan dan tak ternilai betapa berharganya itu bagi kami.

Tapi… subhanallah, Allah memberikan kami ujian di bulan yang penuh berkah… mengingatkan kami bahwa dunia ini hanya sementara… and yes, nggak ada yg akan kami bawa ke akhirat nanti kecuali amal kami sendiri.

Saya melewati grieving process yang waktu kuliah dulu sempat saya pelajari di MK Developmental Psychology. Shock, denial, fear, anger, bargaining.. and alhamdulillah, finally: acceptance. Tak mudah untuk melewati semua itu, tapi alhamdulillah kami sekeluarga insyaAllah setelah kejadian itu menjadi lebih dekat dengan Allah.. lebih tawakal.. lebih “akhirat-minded”.

Kami belajar untuk selalu berbaik sangka terhadap Allah.. bahwa janji Allah yang mengatakan “Dan sungguh, kesudahan itu lebih baik bagimu daripada permulaan” (QS. Adh-Dhuha ayat 4) itu adalah yang kami pegang… karena Dia adalah satu2nya yang pasti..dan janjiNya adalah benar. Dan Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu.. dan yang Maha Memiliki semuanya… ketika diambil olehNya, pasti itu untuk kebaikan kita di masa yang akan datang, baik di dunia maupun di akhirat.

Alhamdulillah kami sekeluarga masih diselamatkan sehingga tidak bertemu orang2 itu… alhamdulillah kami semua sehat2, anak2 juga ceria seperti tidak terjadi apa2… alhamdulillah iman & Islam kami bukanlah yang hilang dari kami, naudzubillahmindzalik.

Jadi… Bismillah… Semoga saya bisa menjadi lebih baik from now on… dan semoga Allha menggantikan apa yang diambil kembali dengan izinNya dengan yang lebih baik lagi, aamiin…🙂

Posted by: arumchan | June 10, 2012

5 years

On this day exactly 5 years ago, my parents gave me advice on my new marriage: don’t forget that you have to give-in to your husband from time to time. And 5 years ago, I reluctantly agreed– not to getting married but to the “giving in” part. I wanted my marriage to be equal on both parts, husband and wife. Relatives and other married friends also said to be prepared for finding out things about your husband that you never knew about. At that time, I thought, what else is there left for me to find out— we’d been dating for 6 years, I think that’s long enough for me to know about him, right?

5 years later….

I do give in to dear hubby. I let him sleep-in on weekend mornings and skip the middle-of-the-night diaper changes and baby-pick-ups with our second baby. I’ve learned to appreciate whatever he brings home.. even if he surprises me with (unnecessary) food even though I had already cooked dinner. I’ve learned to give in to his hobbies and his habits, even though sometimes they drive me crazy.
But you know what? The truth is, over these 5 years, he has given in to me more than I probably have to him. But he says nothing. He just lets me have my ways and silently (and hopefully happily,) agrees to how I arrange our life and home. On those days when I get angry at him for being so stubborn and having his own way (instead of mine).. it is only later on that I learn the other things he’s been not saying to me, such as “I’m really tired from work but let’s go out tonight to get some groceries. I have a bit of a headache but I’ll take you out this weekend with the kids to have some fresh air. We’re tight on money this month but let’s go eat that margarita pizza that you love.” … and other things that he keeps so well inside just to make me happy (and not worried). Things that make me cry coz I feel really childish for complaining and dumping my emotional trash on him.. when actually, he’s done a lot for me.. for our family, without complaining as much as I do sometimes.

Everyday I’m still learning about him. Time passes and people change, so everyday I want to learn more about my own hubby. And it would be foolish for me to close my eyes about his past & present influences on his life that make him who he is today, when I myself have a degree in psychology *duh! Smack on forehead*! But sometimes I do close my eyes and forget that it isn’t necessary his fault if he sometimes acts in ways that make me mad or frustrated. I forget that it’s easier to discuss it with him in a polite way and tell him straight-forward what I want and why I’m dissapointed. I forget that it’s not healthy to keep a marriage “score card”, because the give and take is mutual, and we both do it wether it can be seen or not. And I forget that God makes us complete one another.. we both aren’t perfect and neither is better than the other, but somehow, someway, we really do complement each other.. and what’s important is that we’re happy, no matter what anyone else may say about us. I’ve learned by now.

So, dear hubby… here’s to 5 great and happy colorful years together… and to 2 very lovable & snuggable kiddos.. and insyaAllah looking forward to many more years with you! Love you so much xoxoxoxo


Posted by: arumchan | June 2, 2012

Back to normal….

Okayy, again, it has been a while since i’ve written.. and I really really want to start writing again! Since my last post there have been lots of changes in my family life, mainly the birth of our baby girl🙂 Our lives have been changed.. and developed– adapting to life with 2 kids isn’t an easy transition but not impossible either😉 We just need time.. and sooner than later our lives have better adapted and everything is slowly but surely getting back to normal, alhamdulillah!

So along with this new “normalcy”, I’m starting to (want to) write again, dengan niat yang lebih “lurus” yakni membuat tulisan2 about parts of our life that may be useful when read by others. Alhamdulillah juga aku diberikan petunjukNya in exploring resources for educational activities to do at home with Botchan, enriching his toddler years and insyaAllah hopefully homeschooling later on when it’ll be time for elementary school. It’s amazing how much free resources are available through the internet and file sharing websites (I’ll save the websites I find useful on my Links section in this blog, feel free to explore them as well!). It’s more overwhelming to browse ideas for activities— I have to constantly remind myself of the time so that I don’t get carried away (when I do have free time, that is).

Besides the homeschooling stuff, alhamdulillah juga dapat petunjukNya mengenai artikel2 parenting & education yang bisa membuka pikiranku (and hubby too!). Being a parent is a neverending learning process and we have to keep up with the latest researches, trends, developments, issues, etc concerning our kids.

All of this and just 24 hours in a day… harus me-manage waktu yang lebih baik! Bismillah, semoga niat ini diridhoi Allah SWT, aamiin…🙂

Dini hari ini kami terbangun dengan suara tangisan Ken yang menyerupai tantrum: menangis kencang semi teriak2, guling2, bahkan sampai nendang2 kasur. And the 1st thing that came to my mind was: oh no, not another night terror!

Yup, night terror. Similar yet DIFFERENT than a nightmare. Alhamdulillah, ndilalahnya beberapa bulan lalu pas lagi buka2 Fb, ada artikel mengenai night terror yang dibahas oleh salah satu parenting site yang aku subscribe newsfeed-nya… I read it, dan gak lama setelah itu terjadi night terror untuk pertama kali pada Ken. (I believe there are no coincidences in life, semuanya udah diatur sama Allah, jadi alhamdulillah untuk petunjukNya jauh sebelum ini semua terjadi🙂 ) Jadi ketika pertama kali Ken mengalami night terror, alhamdulillah aku nggak mikir yang macem2, because believe me, it’s a pretty scary thing to watch your child go through. And today’s night terror was the 3rd time for Ken, and still scary to watch. Why is it so scary?

OK, definitions. Night terror adalah sejenis gangguan tidur yang pada umumnya dialami oleh anak kecil, sometimes as young as 9 months or 1 year dan biasanya akan menghilang dengan sendirinya seiring si anak tumbuh besar. Gangguan tidur ini terjadi pada tahap deep, non-REM sleep (tidur tahap 4), dimana biasanya pada tahap ini tidak ada mimpi sama sekali. Bedanya, kalau nightmares atau mimpi buruk itu terjadinya pada REM sleep (tidur tahap 5) sehingga kalau anak mengalami mimpi buruk maka akan mudah dibangunkan dan di-comfort, dia juga akan mengingat isi mimpi buruknya. Nah, karena si night terror ini terjadinya pada tahap deep, non-REM sleep, maka ketika kejadian si anak akan susah sekali untuk dibangunkan, walaupun dia tampak dalam keadaan “bangun/sadar/melek”.

What’s it like? Hidup dalam masyarakat yg memiliki nilai2 religius & budaya yang beragam, secara awam maka si anak ini paling gampang dikira kesurupan atau diganggu makhluk halus. Yes, not a pretty picture. But insyaAllah, no, it’s not because of that. And yes, your child is still a happy & normal child🙂 Scientifically, ketika mengalami night terror, maka si anak akan:

  • terlihat sangat ketakutan atau marah, tapi nggak bisa dibangunkan atau ditenangkan. Bahkan, kalau dicoba dipeluk/dipegang biasanya akan semakin ekstrim reaksi marah/ketakutannya.
  • menangis, teriak2, guling2, berdiri, bahkan mendorong kita menjauh atau melakukan perbuatan2 lain seolah2 dia dalam keadaan sadar (dan kadang dengan mata terbuka/melek)
  • seolah2 nggak mengenali kita walaupun matanya terbuka dan dia tampaknya bangun/sadar tapi memandangnya “melewati” kita
  • benda2 atau orang2 di sekeliling anak ini bisa disangkanya sebagai ancaman baginya (makanya dia bisa jadi seolah2 menyuruh kita pergi atau mendorong kita menjauh)
  • kejadian ini bisa berlangsung secepat 5 menit hingga selama 30 menit
  • setelah selesai, si anak akan tenang dengan sendirinya dan tertidur pulas kembali, ketika bangun nggak akan ingat kenapa dia menangis
  • biasa terjadi pada tahap2 awal tidur (kira-kira 2 jam stlh tertidur) atau pada dini hari— kalau Ken terjadinya sekitar subuh, dan biasanya terjadi ketika dia tidur malamnya sangat “telat” (setelah jam 11 atau mendekati jam 12)
  • night terror nggak menimbulkan trauma/luka apa2, hanya ketika terjadi kita sebagai orang tua cukup menjaga supaya si anak nggak terbentur apa2

What to do when it happens? Well, painful to watch, but it’s best to wait it out. Yah, ditungguin sampai selesai tanpa dicoba untuk dibangunkan/ditahan/ditenangkan– karena biasanya akan semakin “parah” atau lama durasinya. Paling2 si anak diamankan sekelilingnya supaya nggak terbentur dinding atau yg keras2 atau terjatuh dari tempat tidurnya. Inget, kan mereka dalam keadaan TIDUR LELAP, jadi mau dicoba dibangunkan juga percuma (dan nggak bisa sampai bener2 selesai). Bolehlah nungguin si anak sambil kita berdoa/berdzikir dalam hati, tapi nggak perlu sampe manggil2 “orang pinter” pas tengah malem buta atau dicipratin2 air kembang 7 rupa ;p

Night terror Ken yg pertama bikin kaget dan bangun aku & suami, tapi alhamdulillah udah dapat petunjukNya berupa artikel night terror beberapa waktu sebelumnya, jadi kita amati & didiamkan (sambil dalam hati berdzikir & berdoa yah, teteup). Nah night terror yang ke-3 ini, suami udah sampe tahap bangun sebentar (nyadar) trus beranjak tidur lagi, tapi terbangun (lagi) karena kali ini night terrornya menyerupai full-blown tantrum (crying, kicking, screaming, rolling around, sampe mau keselek segala saking kejernya). It lasted for a good 30 minutes I think. My bad, ketika mulai tenang, aku coba elus2 kepalanya, ehhh balik ngamuk lagi. His bad, ketika mulai tenang (lagi) dia pindah ambil posisi tidur di sebelah Ken, malah jadinya dia berdiri dan nunjuk2 suruh pergi sambil teriak2 & nangis2. Jadi akhirnya hubby hijrah tidur ke lantai bawah, aku duduk aja di ujung tempat tidur sampai dia tenang trus terbangun beneran dan datengin aku sambil bilang, “Mama, Ken kenapa nangis??”. Gubrak! And in just 3 minutes, dia balik ke posisi tidur andalan dia, narik selimut, ngajakin aku tidur, and he was sound asleep again, alhamdulillah. Alhamdulillah juga gak didatengin tetangga/satpam pagi2 buta gini🙂

Ok, switch channels– back to the scientific part. Why does it happen? Penyebabnya lebih sering dikaitkan dengan anak yang terlalu capek (overtired) dan kurang waktu tidurnya. Penyebab lainnya mungkin juga karena ada suatu stres yang sedang dihadapi oleh si anak.

With Ken, setelah 3x night terror, aku perhatikan memang semuanya terjadi ketika siang hari sebelumnya Ken jam tidur siangnya kelewatan/kepotong pendek dengan diikuti waktu tidur malam yang kelewat larut (padahal siangnya udah dikit tidurnya atau malah gak tidur sama sekali). Yahh itulah lika-likunya punya anak yang memasuki usia toddlerhood yang berjiwa kalong alias makin malam makin menjadi (bangunnya, maksudnya, hehehe). Lalu, akhir2 ini kan Ken sedang dipersiapkan untuk menerima kehadiran adik baru, dimana perubahannya ya mencakup hampir semua aspek kehidupannya, nggak drastis tapi cukup berat-lah untuk seorang anak tunggal yang terbiasa mendapatkan full-attention dari mama-papanya. Selama ini dia sih menerima perubahan ini dengan cukup baik (yah pelan2 juga dilaluinya) tapi mungkin karena semakin mendekati waktu persalinan maka semakin terasa perubahannya: yang terbaru adalah dia dicoba untuk naik school bus dengan ibu guru pas pulang playgroup (instead of dijemput sama mama seperti biasanya) dan perubahan sementara fungsi kamar mainnya jadi kamar tidur keluarga untuk membantu pemulihan mama pasca-operasi c-section nanti. Those are all big steps for my small toddler to take, walaupun tampaknya dia melangkah dengan ceria tapi yah sisi yang “kurang ceria” mungkin dikeluarkan via night terror ini, huhuhu… ;(

Yah, if you’re reading this and you know parents that are experiencing the same, monggo disebarkan informasinya. Dan jangan lupa di-infokan juga ke eyang2 dan pengasuh yang lain, jadi nggak pake episode kaget2an dari mereka juga😉

Posted by: arumchan | March 9, 2012

Growing up is hard to do

As parents, our natural instinct is to protect our children from any harm. We make sure their toys are safe, makanan dipilihkan yang sesehat mungkin, diawasi lekat2 ketika bermain… pokoknya dijaga bener deh amanah yang satu ini. But sometimes, in our effort to protect our children, IMHO we can get a little too overprotective. In this sense, I mean too overprotective in letting our kids grow up and go through phases or changes in life that he/she might need time and (lots of) practice to overcome and achieve.

Siapa sih orang tua yang tega (atau tahan kuping atau mukanya) denger anak nangis lama2? Apalagi kalau sampai tantrum yang seolah2 si anak ini sedang disiksa? (Yes, my son’s screams are THAT loud, sampai2 kadang harus nutup jendela & pintu supaya gak didatengin satpam n tetangga hehehe). Di masyarakat Indonesia yg aku amati, sepertinya banyak sekali orang tua & kakek-nenek yang nggak tega/nggak mau membuat anak menangis. Sedikit merengek udah langsung dituruti/disamperin/dicegah supaya nggak nangis. Padahal, kadang menangis dan tantrum itu perlu lho… at least, itulah yg aku dapatkan dari membaca sekian buku & artikel parenting. “Perlu” di sini harus lihat konteks penyebabnya yah…

Pada dasarnya, menangis itu kan bentuk komunikasi paling dasar yang dimiliki oleh seorang bayi. Dia laper, nangis…panas, nangis..popok basah, nangis.. dingin, nangis. Nah, kata2 yang aku sampai sekarang masih teringat adalah perkataan seorang perawat senior di Jepang ketika aku baru beberapa hari melahirkan Ken dan waktu itu lagi susah-payah berjuang menyusui secara benar di RS: “Arum-san, bayi itu memang pekerjaannya menangis. Memang biasanya dia menangis karena ada yg nggak nyaman. Tapi, bisa juga dia menangis karena ingin menyemangati mamanya– ia menangis tapi sebenarnya dia sedang bilang dengan caranya sendiri, “Ganbatte, Mama! Ayo kita sama2 bisa!” Jadi jangan sedih atau putus asa ya, itu cara dia bicara dengan kamu… “. Yup, kata2 itu menyadarkan aku kalau memang menangis itu kan cara berkomunikasi bayi dengan kita, jadi jangan dikait2kan dengan kemampuan personal kita sebagai orang tua.

Berangkat dari arti menangis sbg bentuk komunikasi, lama2 kan bayi itu tumbuh besar dan belajar berbicara. But the process takes a long time… dan kalau si anak kecil ini belum bisa mengekspresikan perasaannya dengan kata2 yang benar, ya balik lagi ke bentuk menangis ini. Our job as parents adalah untuk membantu anak kita belajar mengidentifikasi perasaan dan kejadian yang menyebabkan dia menangis, bukan untuk melarang dia menangis. Kita aja sebagai orang dewasa kadang perlu menangis untuk meluapkan emosi yang terpendam, kenapa anak2 nggak boleh juga??

Growing up is not all smiles and laughter. Termasuk buat anak2 kita, ada fase2 tertentu yang mungkin buat mereka agak sulit dilalui begitu saja. With Ken, misalnya sekarang dia lagi giat makan sendiri lagi (setelah lama disuapin makan kembali pas balik ke Indonesia). Sekarang udah masuk ke tahap makan dengan sendok untuk berbagai bentuk makanan (nasi+lauk pauk). Nah, ini kan proses yang kadang bagi dia sulit karena misalnya udah di atas sendok semuanya ehhh pas disuap ke mulutnya ada yg jatuh, atau misalnya nasinya sulit untuk disendok karena tersebar merata di atas piringnya, atau misalnya dia lagi mau memotong sebuah udang tapi butuh tenaga yang extra karena teksturnya agak kenyal. Dan semua ini gak boleh dibantuin, harus “sendiri”. Kalau frustrasi, ya dia mulailah nangis atau tantrum. Tapi sebagai orang tua, kami membiarkan dia menangis atau merengek kesal sambil bilang ke dia “oo, Ken lagi kesel ya karena makanan di sendok jatuh? Ganbatte, yuk coba lagi… coba satu2 dulu atau sedikit2 dulu…”. Kalau ternyata berkembang jadi full-blown tantrum, ya si Ken diangkat dari kursinya trus ditaruh di lantai/sofa dan kami bilang, “Ken lagi kesal ya? Boleh nangis/teriak dulu, Mama-Papa duduk sini yah.. nanti kalau udah selesai kesalnya & nangisnya, ke sini ya peluk Mama.. Mama tunggu sini ya sampai Ken selesai”.

And it worked! Alhamdulillah. Nobody was hurt, only our ears (and maybe our neighbors’ ears). After what seemed like eternity (padahal klo dilihat jam gak sampe 10 menit), he finally stopped the crying-screaming-kicking the floor phase and calmed down jadi sesenggukan… trus dateng deh ke saya untuk “peluk mama”. And then baru deh saya kasih/tanya penjelasan ke dia dgn sesederhana mungkin… misal, “tadi Ken kesal/marah ya? Kenapa? Mungkin Ken marah karena ……., sekarang masih marah nggak? Udah lega ya karena udah nangisnya…” terus diajak melakukan hal lain atau diajak balik lagi ke kegiatan awal yang tadi membuat dia menangis– tapi kali ini dengan semangat baru🙂

Ini memang bagian dari mengajarkan Ken tentang feelings dan teknik coping dengan perasaan/masalah yang dia hadapi. Kalau lagi nangis dengan kejer2nya, percuma juga dicoba di-soothe atau dicoba dikasih penjelasan logis, karena lagi sedeng2nya keluar tuh semua perasaan buruk dia. Tantrum itu penyebabnya mungkin karena hal sepeleeee banget (misal, salah memilihkan baju, mainannya kesenggol papanya, sampe salah potong roti juga bisa jadi pemicu tantrum). Saking sepelenya, biasanya suami tuh yang gregetan, “masa gitu aja bikin nangis?!?!!”. Nah, di sini aku yang selalu mengingatkan kalau pemicunya memang terlihat sepele, tapi tantrum itu biasanya merupakan keluarnya AKUMULASI perasaan negatif yang mungkin si anak pendam sepanjang hari itu (atau bisa sampai beberapa waktu yang lalu). Ibaratnya volcano, ya magma-nya udah penuh dgn macem2, hanya perlu sedikit pemicu maka keluarlah semua secara campur aduk dalam bentuk tangisan/tendangan/teriakan/guling2an, you name it. Si anak bisa saja sepanjang hari berusaha bersabar menghadapi penolakan2 dari sekitarnya, misalnya mau es krim/mainan di toko terus nggak dibelikan, dia nurut… mainannya direbut sama temen sekelasnya, dia ngalah.. ya terus2an begitu tapi kan mereka juga kadang belum bisa “legowo” untuk bersikap sebagai anak baik (sikap yg selalu kita tekankan kepada mereka)… they’re still learning EVERYTHING, termasuk menghadapi perasaan2 yg mungkin saat ini masih sulit dicerna untuk mereka. That’s why tantrums are so powerful, karena penyebabnya sebenarnya macem2…😉

Going through new changes in life juga membawa stress ke anak, yg bisa disalurkan salah satunya melalui tantrum atau tangisan yang agak berlebihan. Misalnya, Ken sudah sejak beberapa bulan yang lalu dipersiapkan untuk menerima kehadiran adik baru. Antara mengerti dan tidak, dia ya manut2 aja, asyik2 aja diajak ke dokter untuk lihat “dede bayi” dan juga mengamati perut mamanya yang makin lama makin besar. Kolokan? Makin menjadi akhir2 ini. Tantrum? Oh yes, semakin lama, udah bisa sampai 10-15 menit nangisnya. Tapi ya it’s part of the accpeting change process, karena perubahan ini kan membawa banyak dampak. Dia harus belajar naik jemputan sekolah tanpa ditemani mama, sebentar lagi belajar untuk “main lebih lama di sekolah” alias mulai masuk penitipan anak (yang alhamdulillah banget masih di sekolahan dia jadi gak kaget2 amat), belum lagi dengan kata2 “kasian Mama dong Ken, kan dede bayinya makin berat jadi mama gak bisa ……” dari Papa/Eyang2nya. So all the while dia berusaha menjadi anak yang “baik” dengan “sayang dede bayi”, di sisi lain, bagian perasaannya yang masih nggak rela berbagi perhatian Mama ya dikeluarkan dalam wujud tantrum atau nangis yang agak lama untuk hal2 kecil.

As parents, kami ingin membantu Ken untuk belajar mengenai perasaan2 yang dia alami dan belajar coping dengan emosi negatif juga. It’s part of growing up, dan kadang gak tega ngelihat dia nangis, tapi ya perlu disikapi dengan tenang & dibiarkan si anak ini merasa sedih, if he needs to. Because in life, ada juga hal2 yang akan membuat kita marah/sedih, and our kids need to learn how to cope with this. Kalau sudah agak lebih besar kan bisa mulai diajarkan teknik2 coping yang lain (misalnya secara verbal bilang “aku nggak suka, aku marah, aku sedih karena….” atau dengan tidur sejenak, teriak ke dalam bantal, gambar2, whatever he likes)… tapi sementara masih kecil ya dibiarkan menangis sambil terus dicoba jelaskan soal nama2 perasaan yg mungkin dia sedang alami.

Kalau memang dia menangis marah karena frustrasi belum berhasil melakukan sesuatu, yg paling penting disemangati supaya mencoba lagi.. maybe after he finishes crying, hehehe ;p It’s very tempting for us to just do it for them, tapi kalau begitu terus, kapan dia berhasil mandiri? Mandiri sesuai tingkat perkembangan dia yah tentunya (makanya kudu rajin2 baca buku parenting untuk memantau developmental-stage mereka). Kita mungkin udah lupa bahwa hal2 dasar seperti memasang kancing baju, pakai baju, makan pakai sendok/garpu, minum dari gelas tanpa tumpah2, membangun menara dari balok— semuanya butuh latihan dan perseverance. Jangan sampai kita sebagai orang tua, dengan alasan untuk mempermudah/melindungi/sayang anak (apalagi kalau punya the extra-funds to hire an “all-in-one” nanny), mengambil kesempatan mereka untuk belajar, berusaha, & meraih keberhasilan/belajar dari kegagalan itu.. because they will need those skills to survive in life🙂 And it’s our best gift for them, untuk mendampingi mereka belajar dan menyemangati mereka… and to let them know that we’ll always be there supporting them — not doing everything for them😉

Pagi ini teringat lagu anak2 yg lagi aku ajarkan ke Botchan:

Kasih ibu.. kepada beta.. tak terhingga sepanjang masa… hanya memberi.. tak harap kembali… bagai sang surya menyinari dunia…

Yes, the all time classic “Kasih Ibu” song, yg menggambarkan betapa besar dan tulusnya kasih ibu kepada anak2nya. Sepertinya mayoritas anak2 Indonesia diajarkan lagu ini, dan orang tuanya juga pasti hafal, apalagi ibu2 yg ngajarin ke anaknya. Liriknya simple, tapi klo dipikir2 maknanya sangat dalam dan bagi saya lumayan *berat*. Kenapa? Karena menyiratkan unconditional love that expects nothing in return. Pertanyaannya adalah: sudahkah kita bisa memberikan unconditional love that expects nothing in return to our children?

Klo sekarang mereka masih kecil2, sepertinya memang wajar kita nggak ngarepin apa2 sebagai balasan. Paling2 kan the occasional mother’s day card, birthday wishes, hugs, and kisses.. yeah, that sort of stuff. Then again, itu kan ngajarin anak untuk appreciate all your mother’s hard work in a not-really-materialistic-way. Teaching them to genuinely appreciate and thank someone’s efforts, not just their parents but other people in their lives as well. Tapi apakah kita udah benar2 siap melepaskan anak2 kita ketika mereka nanti beranjak dewasa dan punya kehidupan/keluarga sendiri??

Klo dipikir2, kita kan ber-investasi untuk anak2 kita. We spend most of our hard-earned money on their needs and wants, hoping for a bright future for them. We spend endless energy on their well-being, setting aside our own needs at times. Jadi, apakah nanti kita akan expect a return-on-investment when they have grown up?

I don’t know about other parents. But having lived in Japan, di mana jumlah penduduk lansia itu sangat tinggi, alhamdulillah aku bisa belajar dari semangat mereka dan pandangan hidup mereka yg usianya udah 2 bahkan 3 kali lipat dari saya. Di sana, nggak jarang saya menemui lansia yg sedang jalan2 SENDIRI ke supermarket, belanja. Atau mereka yg lagi jalan2 sore sembari ketemu teman2 lansia mereka, ngobrol hahahihi layaknya masih muda. Atau mereka yg lagi asyik berkebun, nyiram bunga atau ngurusin tanaman mereka di halaman rumah yg terbatas. Bahkan waktu hamil Botchan, aku “disalip” oleh nenek2 yg jalan pakai tongkat, yg kecepatan jalannya lebih cepat dari aku (yg waktu itu lagi hamil trimester 3, jalannya udah seperti pinguin hahaha). And are they complaining about being old? No. Are they dependent upon their kids? Not that I can see.

Saya punya teman orang Jepang yg tinggal serumah dengan mertuanya; dia di lantai atas dan mertuanya di lantai bawah, they live in harmony dgn dinner bersama2 around once a week. Ada juga teman lain yg ketemu orang tuanya sebulan 2-3 kali aja, padahal mereka tinggal sekota. Ada yg ketemu setahun sekali, bahkan 2 tahun sekali, karena tinggal beda kota dan kesibukan pekerjaan. And do they mind? No. Malah mereka look forward to seeing their kids on those special occasions that they do meet.

Maybe it’s just my circumstance here, tapi sejak balik ke sini, my hubby and I sudah dibebani dengan responsibility of “berbakti kepada orang tua”. Don’t get us wrong, we dearly love our families and love spending time with them. Tapi kadang setiap kali telfon, yg selalu ditanyakan adalah “kapan ke sini? kok nggak ke sini?” padahal belum lama ketemu. And then there’s the more annoying “kok nggak ke sini sih? kan kesepian…” or other worse comments like “kita udah ngebesarin kamu, mana baktimu ama orang tua?”, “buat apa cari uang tambahan, klo nanti kurang kan tinggal minta ke kamu”, “kan kita nggak ada yg nganterin selain anak2”, “kok sejak nikah jadi pelit ngasih ke orang tua sih?”.. and the list *sadly* goes on and on and on.

Aku pribadi sih berdoa, semoga aku bisa ikhlas dalam membesarkan anak2ku. I spend time, energy, and money on them, tapi aku sadar bahwa mereka insyaAllah akan mandiri suatu hari nanti klo udah besar dan punya kehidupan dan keluarga sendiri. Makanya aku menikmati lelahnya membesarkan anak, supaya nanti insyaAllah klo mereka udah pada mandiri, aku juga udah “puas” dengan membesarkan mereka dan spending lots of time with them. Karena aku nggak ingin menjadi orang tua yg nuntut ini-itu ke anak. Asalkan mereka mandiri, bahagia, dan ingat untuk sekali2 meet up with their dear-old-parents, i think it’ll make me and hubby happy enough. I want them untuk kelak truly enjoy spending time with us, bukan sebagai obligations semata. And I want to have a positive& independent outlook on life, even though old age is approaching. Paling minta diingat dalam doa selalu dan agar mereka jadi anak yg soleh/solehah, itu amalan yg nggak putus sampai akhirat kan? 

I pray that me and hubby sama2 dipanjangkan umurnya dan diberikan kesehatan yg baik, sehingga bisa menikmati each-other’s company in our old days. I pray kami bisa hidup yg berkecukupan, mensyukuri setiap nikmat yg dianugerahkan kepada kami, banyak maupun sedikit. I want us to be like the old couples in Japan yg semangat selalu, dan nggak tergantung dengan anak2 untuk “ngurusin orang tuanya”…. insyaAllah, aamiin…

Seperti lirik lagu: “hanya memberi, tak harap kembali…”..

Posted by: arumchan | November 9, 2011

A stay-at-home mom also deserves a weekend!

It’s always the SAME issue over and over AGAIN. Ever since we came back to Indonesia, the extended family has always been pulling us this way and that into family gatherings, events, whatever. I personally don’t mind, but when that happens almost EVERY weekend, it’s driving me up a wall! When I try to subtly tell them that we need our alone time, they get offended. When I give them a heads-up beforehand, they don’t listen. And worst of all, they act as if I don’t have a say in my OWN family’s agenda. They always ASSUME that each weekend we’re available. They don’t ask, they give statements. And worst of all, sometimes I don’t even get told, just hubby. Great, now I’m invisible as well.

Well, this is a news flash! I don’t care who reads it or who doesn’t, who gets offended or who understands. I WORK MY ASS OFF EACH WORK DAY. I clean the house, cook, manage logistics, cater to our toddler’s needs, make sure hubby is comfy at home, and a hundred of other things that maybe, other people have the luxury of a maid or someone else to do their work for them. Hey, I know this is my “job”, but even then working people need breaks. And somehow, I think that everyone thinks that just because I stay at home from Mon-Fri, that automatically means that I don’t “need” weekends to relax with the family that I take care of from Mon-Fri. Maybe they think, “Aw, why the fuss when she gets to meet them each day, unlike us who can only meet them on weekends?” Well, IT’S NOT TRUE.

I deserve weekends to spend private time with my family from day-night starting from when I’m not tired til I do get tired— tired from the day’s activities that is. Although I see them each morning and night, it’s not the same. I deserve at least 1 full weekend and at least Saturdays or Sundays EACH WEEK for me. And this goes for hubby too! We both deserve me-time to relax and refresh our tired minds. But how can we each even get me-time if we RARELY get weekends to ourselves? We both also have personal lives and hobbies. It’s just not fair at times. Just because they are extended family, they always use the same, lame excuse. And it’s making me sick.

Harsh as it may sound, I sometimes really wanna say: stop making us feel so guilty for not spending each and every weekend with you! It’s like you’re always blaming us for making your weekends less enjoyable, miserable, lonely, you name it… because we’re not there spending it with you or accompanying you to some extended family gathering. Please get a hobby, spend time with your own friends, do something that makes yourself happy without depending on us! You had your young days as a family, now give us a chance to have ours! It’ll be much more interesting spending time with you if we didn’t see you each and every weekend and you don’t spend most of the time explicitly and implicitly asking us why we aren’t spending more time with you. It’s not that we don’t appreciate you or respect you, but we are a family too who needs our own time on weekends. And it’s no fun waking up on a Monday morning realizing that yet another weekend has gone by and the fatigue from travelling between cities and events still pulls you straight into bed early each night throughout the whole week.

Yeah, I’m pissed. And yeah, I’m pregnant, I might very well be run by crazy hormones. I’m just praying that I don’t take out my frustrations on my hubby or toddler, because they don’t deserve it. Hubby doesn’t deserve to hear my rants when he comes home, tired from working the whole day. Botchan doesn’t deserve getting yelled at for some harmless mistake/act that normally wouldn’t get on my nerves.  And plus, my growing baby definitely doesn’t deserve to feel the frustration inside of me. No, they deserve the best, that’s why I’m writing my heart out in my blog as a substitute for screaming my head off. And obviously, I can’t reason let alone scream at the ones causing me to write this, God forbids me as part of my role as a child/younger family member. And God knows that I’m always thankful for still having the chance to spend time with my family, both main and extended. He just has to know that I’m in over my head. And I hope He reminds my extended family to  be thankful that we’re here in the same country..island..province..just a drive away…. so they won’t lose their heads just because we can’t spend each and every weekend with them.

Posted by: arumchan | November 3, 2011

More reasons for me to homeschool :)

Still reading Linda Dobson’s “The 1st Year of Homeschooling Your Child”.. and as I’m reading along, I thought it would be fun (or maybe useful for others) to share some points that I found interesting😉

  • it’s more important to reduce self-doubt than to prove to your mother-in-law that your 3 yr old can speak 5 languages ;D
  • neither you or your child is perfect— make your mistakes and move on
  • you are accomplishing more in an hour of attention to your child’s education than a school accomplishes in a day
  • has any teacher ever told you she loves your children?
  • who needs to become Supermom with a perfect family anyway, when becoming Available Mom with a happy family is so much more fun?

Hehehe, points that will make you smile and think🙂

Thanks to a dear friend, I was able to finally get my hands on a homeschooling-how-to book, “The First Year of Homeschooling Your Child” by Linda Dobson. Here in Jakarta & Bogor it’s sooooo hard to get my hands on any homeschooling books, and they’re like 2 or 3x the original price anyways😦 So, I’ve read through the 1st few chapters, and there’s an excerpt from John Holt about the most important thing you need to teach your own children. Sungguh menohok. But I think it’s what every parent needs, regardless of wether or not they homeschool their child.

“First of all, they have to like them, enjoy their company, their physical presence, their energy, foolishness, and passion. They have to enjoy all their questions, and enjoy equally trying to answer those questions. They have to think of their children as friends, indeed very close friends, have to feel happier when near and miss them when they are away. They have to trust them as people, respect their fragile dignity, treat them with courtesy, take them seriously. They have to feel in their own hearts some of their children’s wonder, curiousity, and excitement about the world. And they have to have enough confidence in themselves, skepticism about experts, and willingness to be different from most people, to take on themselves the responsibility for their children’s learning. But that is about all the parents need. Perhaps only a minority of parents has these qualities. Certainly some have more than others. Many will gain more as they know their children better; most of the people who have been teaching their children at home say that it has made them like them more, not less. In any case, these are not qualities that can be taught or learned in school, or measured with a test, or certified with a piece of paper.”

— John Holt, in “Teach Your Own”; as quoted in “The First Year of Homeschooling Your Child” by Linda Dobson

So IMHO, whatever education you choose for your child, it’s always you as their parents who have the greater responsibility of educating them. Schools are there to help you along the way, but that shouldn’t mean that you can just let go of that responsibility. Whatever your choice, your kids will always be your responsibility, and no parent should ever forget that😉

Posted by: arumchan | October 7, 2011

Japan’s nationalism

“Start ’em when their young”, I’ve heard some people say. Nowadays it’s all about teaching everything at an earlier age. I have my personal opinions about that, but this time I’ll write about a music-video clip that I just saw– that made me just watch in awe.

I was watching Eigo de Asobo (Play in English) on NHK  with Botchan. FYI, this show is targeted at preschool-young elementary school children and is showed within the young-age group show programs. As always, I’ve considered Japanese kid songs to be entertaining and fun to watch, hence I love watching Botchan’s designated tv shows with him. Expecting nothing out of the ordinary, suddenly came this song titled “Hand in Hand”.. googling, I found the lyrics (unfortunately, as with all NHK videos, the original video clip you can only find during the show and very rarely on Youtube)…






We’ll be together hand in hand

We’ll see the future hand in hand

Oh, looking at a new day

with our faces in the sun

You and I

We’ve come a long way

We’ll be strong

We’ll see tomorrow hand in hand

Just those simple lyrics repeated a few times, but every time showing different people and members of the society, all smiling with reassurance.. school kids, firemen, farmers, families, teachers, shopkeepers, atheletes.. it was a pretty varied mix. At first I didn’t really get the message, but I caught on.. and in the end everybody in the video clip showed a picture of  2 hands holding together, hand in hand. And I thought, with all the devastations Japan has gone through after the previous tsunami and the consequences that followed… wow, NHK. Good job. What a way to encourage your youngest audiences, which, are the generations of tomorrow. Simple yet thoughtful. Bravo!

Now, I wonder when Indonesia will start doing the same thing…..?

Older Posts »