Posted by: arumchan | February 4, 2011

The next big step: homeschooling??

It all started when I went to the bookstore with hubby and Botchan. Aku iseng skimming buku pelajaran untuk kelas 1 SD, penasaran seperti apa sih dunia sekolah sekarang? Dan busettt, I did not like what I saw:

  • Buku yg isinya banyak tulisan… not just a few sentences, tapi udah memenuhi persyaratan untuk dikategorikan sebagai paragraf… padahal di sekolah internasional dan di LN, kelas 1 adalah waktu untuk belajar membaca dan menulis. Dan setahu saya, ada aturan bahwa TK tidak boleh mengajarkan membaca dan menulis.
  • Materi yg seinget saya sih waktu saya SD dulu baru dipelajari ketika kelas 5 SD.. saya sampe cek ulang untuk memastikan klo saya gak salah buku…
  • Terjemahan Bhs.Inggris pada buku teks yg bilingual, yg perintahnya udah mengandung kata2 “organize”.. please raise your hand if you understood the word “organize” when you were in 1st grade…anybody?
  • Bab pertama beberapa buku yg isinya mengenai sudut & jarak antara buku pelajaran dengan mata si murid, lalu perintah untuk “mendengarkan guru di kelas” untuk melengkapi pelajaran bab itu…

I thought it was absurd! I mean, for me, it’s too much, too soon.. Aku yg udah selesai bangku sekolah formal aja serem bayanginnya, gimana Botchan nanti? Lalu, gak berapa lama kemudian ada acara keluarga.. di sana sempet ngobrol2 dengan saudara yg punya anak2 yg duduk di kelas 1 & 2 SD biasa.. trus mereka cerita (atau ngeluh ya?):

  • masuk SD negeri pake tes baca tulis, apalagi untuk SD negeri yg katanya sih unggulan atau percontohan..
  • anaknya ke sekolah pake tas koper gredekan, karena bukunya banyak.. dan terlalu berat in total to carry.. ya iyalah, klo sehari ada sekian jenis mata pelajaran, masa bawa buku cuma 3?
  • PRnya banyak dan emak2nya yg harus ikutan belajar, dan mereka yg deg2an pas anaknya ulangan
  • pelajaran yg sangat beragam mulai dari kelas 1 SD.. ada Bhs.Inggris, di swasta ada yg dikasih Bhs.Mandarin, klo di daerah ada bahasa lokal, IPA, IPS, PPKn, Mtk, Bhs.Indonesia, Olah Raga, Seni… i dunno apa lagi.
  • mereka dengar cerita anaknya temennya atau kenalannya temennya yg mogok sekolah tanpa alasan yg jelas
  • bahkan salah satu dari mereka berniat “nge-les-in” anaknya ketika naik ke kelas 3 SD nantinya, karena udah gak kuat ngajarin…

Okay, I’ve heard enough— atau lebih tepatnya, I don’t want to hear anymore. Takut semakin miris dan antipati denger nasib pendidikan dasar saat ini. As I said, too much, too soon. Dan klo aku ngebayangin diriku ketika kls 1 SD harus belajar seperti itu, kayaknya gak akan betah deh di sekolah.

So, I discussed this with hubby and we’ve come up with an alternative plan to homeschool. Kalau kurikulum nasional diubah total dan menjadi lebih baik dari sekarang, bolehlah ada pertimbangan untuk dimasukkan ke sekolah negeri atau swasta. Syukur2 kalau ada rezeki lebih untuk afford biaya sekolah yg pakai kurikulum IB (international).. atau siapa tau ada sekolah alam yg buka deket2 rumah sini… (deket: dalam jarak tempuh kurang dari 15 menit pakai mobil).

Tapi.. sepertinya kami semakin hari semakin bertekad untuk mencoba homeschooling Botchan. Dan kalau memang jadi, akan sangat mendukung ketika siapa tau insyaAllah (amin!!!) kami bisa balik lagi ke Matsuyama untuk beberapa lama (selain sekolah umum di Jepang, belajar di rumah jadi tetap jalan). Memang sih, sat ini dia belum juga berusia 2 tahun.. tapi keputusan untuk homeschooling atau tidak butuh perencanaan yg matang dan banyak pertimbangannya. Dan sebagai uji coba, insyaAllah mau dicoba dari umur 3 thn nanti sampai 6 thn.. kalau dirasa cocok bolehlah dilanjutkan hingga selesai SD. Tapi misalnya ada yg dirasakan kurang efektif atau sikon yg kurang mendukung, masih bisa diputuskan ketika akan masuk SD. Jadi dari sekarang saya sibuk baca sana-sini tentang homeschooling dan tetek bengeknya. Banyak… dan beragam…..dan susahnya minta ampun untuk nyari buku ttg homeschooling yg imported (bukannya gak mau baca yg dalam negeri punya, tapi masih bisa dibaca dari website dan milis HS di Indonesia, jadi pinginnya baca dari sumbernya langsung.. nanti bolehlah baca buku yg ditulis oleh penulis dalam negeri). Dari sekarang juga saya udah terdaftar di milis HS untuk Indonesia dan sedang mencari2 komunitas HS di Bogor 🙂

Saya sadar kalau keputusan ini konsekuensinya banyak.. dan berat. I mean, banyak orang tua yg merasa “merdeka” ketika anak2 mereka masuk sekolah, karena dapat tambahan waktu free-time untuk doing other stuff, pursuing hobbies, ngurus adik2 si sulung, or maybe going back to work, etc. And if I will HS, then itu artinya ya saya bener2 full-time mom sekaligus “guru” yg mesti punya lesson-plan dan melakukan evaluasi. Gimanapun juga, di akhir setiap jenjang pendidikan harus ikut ujian penyetaraan untuk ijazah, toh?

Yes, I still have time to find info and learn about this decision that I will make..

Satu hal yg melekat di ingatan adalah quote: “learning is not putting information into a bucket, but the lighting of a fire“.. saya lupa persisnya bunyinya seperti apa dan siapa yg mengatakannya, tapi itulah inti pendidikan buat saya. And I want Botchan to be a life-long learner who loves learning.. dan gak terpatok pada bangku sekolah saja. I want him to be able to explore and learn about his world, and I want him to be HAPPY and ENTHUSIASTIC towards learning. I don’t want to deprive him of his childhood and I want him to ENJOY learning.. not to go to school with a heavy backpack and a heavy heart as well.

Yah, hanya bisa berdoa dan baca bismillah.. semoga Allah tunjukkan jalan yg terbaik, amin 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: