Posted by: arumchan | July 26, 2011

An article about education by Rhenald Kasali

Another reason for me to homeschool… insyaAllah semakin kuat tekad kami, semoga diridhoi Allah SWT, aamiin 🙂
Deep Understanding – Rhenald Kasali, SINDO 21 Juli 2011

Deep Understanding

Salah satu teka-teki yang masih saya ingin tahu jawabannya sepanjang
lebih dari 25 tahun menjadi pendidik adalah: mengapa anakanak kita
kesulitan mengungkapkan isi pikirannya?

Â

Maksud saya,kalau diberi pertanyaan, kok jawabannya pendek sekali dan ingin
cepatcepat selesai. Selain tidak argumentatif, terasa miskin dalam konsep.Di
Harvard Michael Porter, guru besar ilmu manajemen terkemuka yang menularkan
metode pengajaran partisipatif pernah memberi tahu resepnya.

 ”Ajukan cold call, tunjuk seseorang secara mendadak, lalu gali
perlahan-lahan. Mereka mungkin kurang siap, tetapi buatlah sebersahabat mungkin
agar mereka nyaman berbicara.” Saya pun menerapkannya, dan ternyata hanya
berhasil di tingkat pendidikan S-2 dan S- 3. Di tingkat S-1, saya butuh waktu
banyak sekali untuk menggali dan mengeluarkan isi pikiran mahasiswa saya.

Dan kalau dikejar lebih jauh, mereka menjawab seragam: ”Ya gitu deh!” Dan
kalau sudah mentok, keluarkanlah jargon asyiknya: ”Au ah, gelaap…”
Tetapi,saya tidak menyerah. Sampai di pertengahan semester, satu persatu mulai
berani memberi jawaban yang agak panjang, lebih panjang, lebih menyatu, dan
sistematis.

Dan tahukah Anda, di situlah letak kebahagiaan seorang pendidik, yaitu saat
anak-anaknya mendapatkan apa yang disebut ”deep understanding”.

Hubungan Kompleks

Orang dewasa seperti bapak dan ibu yang telah lulus menjadi sarjana dan bekerja
barangkali pernah merasakan betapa sulitnya memahami
hubungan-hubungan yang kompleks dalam sebuah teori. Nah, kemampuan
seorang anak menangkap hubunganhubungan yang kompleks dalam sebuah teori atau
konsep itulah yang kita sebut sebagai deep understanding.

Jadi bukan sekadar tahu banyak hal namun serbasedikit. Bukanlah sekadar
menguasai permukaan-permukaan yang ngepop atau sekadar fragmented pieces of
information. Deep understanding sangat diperlukan dalam dunia pendidikan, dan
untuk itulah seorang guru dituntut untuk bersabar dan memeriksa apakah betul
murid-muridnya sudah paham dan bisa mengerjakannya.

Pendidikan seperti itulah yang sebenarnya dirindukan anak-anak kita. Bukan
seperti sekarang yang dikenal anakanak dengan istilah SKS (sistem kebut
semalam). Guru-guru yang bijak tahu persis otak manusia memerlukan waktu untuk
merangkai satu elemen dengan elemen-elemen lainnya.

Ibarat orang membuat kue lapis legit, dibuatnya harus dengan penuh kesungguhan,
dari selapis tipis yang satu ke lapisan tipis berikutnya. Sebaliknya, metode
sistem kebut satu malam yang banyak dianut dewasa ini sepertinya sangat
mengabaikan kapasitas belajar para murid.Guru ingin cepat-cepat berpindah dari
satu halaman ke halaman berikutnya.

Penjelasan-penjelasan mendasar sebuah konsep sering terputus,sehingga anakanak
kesulitan memahami suatu konsep secara mendalam. Cara seperti ini sungguh kejam.
Ibarat sopir metromini atau taksi liar, guru bisa dipacu menjadi ”sopir
tembak” yang ugal-ugalan ”kejar setoran”.

Tidak mengherankan bila menjelang ujian, guru, dan murid sama-sama panik.
Guru-guru yang cerdik tentu tak kehilangan akal, digunakanlah dulu yang kita
kenal sebagai ”jembatan keledai” saat ujian di SLTA dulu tentu mengerti
mengapa disebut demikian. Guru dan murid telah kehilangan sesuatu yang sangat
berarti dalam pendidikan, yaitu waktu. Kita tak bisa menyimpan waktu, apalagi
membelinya.

Tetapi, kita tidak bisa memberi mereka waktu yang lebih banyak untuk pen-dalaman
suatu konsep. Caranya sederhana saja, rampingkan jumlah mata ajaran yang harus
diberikan dan berikan metode yang lebih aktif –kolaboratif.

Saya sering diprotes oleh orang-orang yang khawatir mata ajarnya tidak relevan
lagi bila pemerintah kelak mendengarkan tulisan reflektif ini dengan mengurangi
jumlah mata ajaran yang harus diambil para murid.Tetapi selalu saya katakan,kita
harus berani berkata jujur bahwa anakanak kita telah mengalami penyiksaan otak
yang rawan.

Dan dampaknya sudah kita rasakan saat ini dengan beredarnya orang-orang bergelar
hebat, pintar, tahu banyak, tetapi selalu bingung harus bergerak ke mana dan
harus memulai dari mana.

Kreatif dan Reflektif

Saat menulis kolom ini saya pun tengah membongkarbongkar program-program belajar
dari berbagai sekolah di mancanegara. Bila disimak
tulisan-tulisan saya dua minggu terakhir, perampingan-perampingan telah diambil
sejumlah bangsa dalam beberapa tahun terakhir ini.

Di sebuah sekolah di Jepang, saya menemukan sebuah buku pedoman belajar dengan
tujuh pilar, yaitu berpengetahuan dengan ”deep understanding”, mampu
berpikir kompleks dan menjadi pemecah masalah,kreatif namun reflektif, menjadi
kontributor yang bertanggung jawab, termotivasi dan terkendali, independen namun
interdependen, dan mampu menjadi komunikator yang efektif.

Ketika saya masukkan katakata kunci di atas di mesin pencari di internet, saya
pun menemukan kesamaan dari banyak sekolah di negara-negara maju bahwa
melahirkan orang kreatif saja tidak cukup, tapi juga harus menjadi kontributor
yang bertanggung jawab dan reflektif.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita membentuk manusia-manusia seperti
itu? Anda mungkin mulai merasakan kegalauan- kegalauan saat orangorang kota yang
sudah memiliki kendaraan
(roda dua maupun roda empat) tidak bisa membedakan (bahkan tidak tahu
cara memakai) antara klakson dengan rem.

Saat posisi di jalan raya kejepit atau tidak bisa menyusul, bukan rem yang
dipijak, melainkan klakson. Saya tidak tahu apa jawaban yang harus diberikan
untuk membuat seseorang menjadi hebat, tetapi mungkin saya tahu apa kunci
kegagalan yang akan dialami bangsa ini.

Yaitu, saat kita merasa bangga dengan banyak pelajaran yang kita dapatkan,
padahal semua itu hanya kulit-kulitnya.Hanya sepotong-sepotong, miskin
pendalaman dan tidak reflektif. 

RHENALD KASALI Ketua Program MM UI
Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/414362/34/__

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: