Posted by: arumchan | November 26, 2011

kids are not our personal assets: sudah ikhlaskah kita membesarkan mereka?

Pagi ini teringat lagu anak2 yg lagi aku ajarkan ke Botchan:

Kasih ibu.. kepada beta.. tak terhingga sepanjang masa… hanya memberi.. tak harap kembali… bagai sang surya menyinari dunia…

Yes, the all time classic “Kasih Ibu” song, yg menggambarkan betapa besar dan tulusnya kasih ibu kepada anak2nya. Sepertinya mayoritas anak2 Indonesia diajarkan lagu ini, dan orang tuanya juga pasti hafal, apalagi ibu2 yg ngajarin ke anaknya. Liriknya simple, tapi klo dipikir2 maknanya sangat dalam dan bagi saya lumayan *berat*. Kenapa? Karena menyiratkan unconditional love that expects nothing in return. Pertanyaannya adalah: sudahkah kita bisa memberikan unconditional love that expects nothing in return to our children?

Klo sekarang mereka masih kecil2, sepertinya memang wajar kita nggak ngarepin apa2 sebagai balasan. Paling2 kan the occasional mother’s day card, birthday wishes, hugs, and kisses.. yeah, that sort of stuff. Then again, itu kan ngajarin anak untuk appreciate all your mother’s hard work in a not-really-materialistic-way. Teaching them to genuinely appreciate and thank someone’s efforts, not just their parents but other people in their lives as well. Tapi apakah kita udah benar2 siap melepaskan anak2 kita ketika mereka nanti beranjak dewasa dan punya kehidupan/keluarga sendiri??

Klo dipikir2, kita kan ber-investasi untuk anak2 kita. We spend most of our hard-earned money on their needs and wants, hoping for a bright future for them. We spend endless energy on their well-being, setting aside our own needs at times. Jadi, apakah nanti kita akan expect a return-on-investment when they have grown up?

I don’t know about other parents. But having lived in Japan, di mana jumlah penduduk lansia itu sangat tinggi, alhamdulillah aku bisa belajar dari semangat mereka dan pandangan hidup mereka yg usianya udah 2 bahkan 3 kali lipat dari saya. Di sana, nggak jarang saya menemui lansia yg sedang jalan2 SENDIRI ke supermarket, belanja. Atau mereka yg lagi jalan2 sore sembari ketemu teman2 lansia mereka, ngobrol hahahihi layaknya masih muda. Atau mereka yg lagi asyik berkebun, nyiram bunga atau ngurusin tanaman mereka di halaman rumah yg terbatas. Bahkan waktu hamil Botchan, aku “disalip” oleh nenek2 yg jalan pakai tongkat, yg kecepatan jalannya lebih cepat dari aku (yg waktu itu lagi hamil trimester 3, jalannya udah seperti pinguin hahaha). And are they complaining about being old? No. Are they dependent upon their kids? Not that I can see.

Saya punya teman orang Jepang yg tinggal serumah dengan mertuanya; dia di lantai atas dan mertuanya di lantai bawah, they live in harmony dgn dinner bersama2 around once a week. Ada juga teman lain yg ketemu orang tuanya sebulan 2-3 kali aja, padahal mereka tinggal sekota. Ada yg ketemu setahun sekali, bahkan 2 tahun sekali, karena tinggal beda kota dan kesibukan pekerjaan. And do they mind? No. Malah mereka look forward to seeing their kids on those special occasions that they do meet.

Maybe it’s just my circumstance here, tapi sejak balik ke sini, my hubby and I sudah dibebani dengan responsibility of “berbakti kepada orang tua”. Don’t get us wrong, we dearly love our families and love spending time with them. Tapi kadang setiap kali telfon, yg selalu ditanyakan adalah “kapan ke sini? kok nggak ke sini?” padahal belum lama ketemu. And then there’s the more annoying “kok nggak ke sini sih? kan kesepian…” or other worse comments like “kita udah ngebesarin kamu, mana baktimu ama orang tua?”, “buat apa cari uang tambahan, klo nanti kurang kan tinggal minta ke kamu”, “kan kita nggak ada yg nganterin selain anak2”, “kok sejak nikah jadi pelit ngasih ke orang tua sih?”.. and the list *sadly* goes on and on and on.

Aku pribadi sih berdoa, semoga aku bisa ikhlas dalam membesarkan anak2ku. I spend time, energy, and money on them, tapi aku sadar bahwa mereka insyaAllah akan mandiri suatu hari nanti klo udah besar dan punya kehidupan dan keluarga sendiri. Makanya aku menikmati lelahnya membesarkan anak, supaya nanti insyaAllah klo mereka udah pada mandiri, aku juga udah “puas” dengan membesarkan mereka dan spending lots of time with them. Karena aku nggak ingin menjadi orang tua yg nuntut ini-itu ke anak. Asalkan mereka mandiri, bahagia, dan ingat untuk sekali2 meet up with their dear-old-parents, i think it’ll make me and hubby happy enough. I want them untuk kelak truly enjoy spending time with us, bukan sebagai obligations semata. And I want to have a positive& independent outlook on life, even though old age is approaching. Paling minta diingat dalam doa selalu dan agar mereka jadi anak yg soleh/solehah, itu amalan yg nggak putus sampai akhirat kan? 

I pray that me and hubby sama2 dipanjangkan umurnya dan diberikan kesehatan yg baik, sehingga bisa menikmati each-other’s company in our old days. I pray kami bisa hidup yg berkecukupan, mensyukuri setiap nikmat yg dianugerahkan kepada kami, banyak maupun sedikit. I want us to be like the old couples in Japan yg semangat selalu, dan nggak tergantung dengan anak2 untuk “ngurusin orang tuanya”…. insyaAllah, aamiin…

Seperti lirik lagu: “hanya memberi, tak harap kembali…”..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: