Posted by: arumchan | March 9, 2012

Growing up is hard to do

As parents, our natural instinct is to protect our children from any harm. We make sure their toys are safe, makanan dipilihkan yang sesehat mungkin, diawasi lekat2 ketika bermain… pokoknya dijaga bener deh amanah yang satu ini. But sometimes, in our effort to protect our children, IMHO we can get a little too overprotective. In this sense, I mean too overprotective in letting our kids grow up and go through phases or changes in life that he/she might need time and (lots of) practice to overcome and achieve.

Siapa sih orang tua yang tega (atau tahan kuping atau mukanya) denger anak nangis lama2? Apalagi kalau sampai tantrum yang seolah2 si anak ini sedang disiksa? (Yes, my son’s screams are THAT loud, sampai2 kadang harus nutup jendela & pintu supaya gak didatengin satpam n tetangga hehehe). Di masyarakat Indonesia yg aku amati, sepertinya banyak sekali orang tua & kakek-nenek yang nggak tega/nggak mau membuat anak menangis. Sedikit merengek udah langsung dituruti/disamperin/dicegah supaya nggak nangis. Padahal, kadang menangis dan tantrum itu perlu lho… at least, itulah yg aku dapatkan dari membaca sekian buku & artikel parenting. “Perlu” di sini harus lihat konteks penyebabnya yah…

Pada dasarnya, menangis itu kan bentuk komunikasi paling dasar yang dimiliki oleh seorang bayi. Dia laper, nangis…panas, nangis..popok basah, nangis.. dingin, nangis. Nah, kata2 yang aku sampai sekarang masih teringat adalah perkataan seorang perawat senior di Jepang ketika aku baru beberapa hari melahirkan Ken dan waktu itu lagi susah-payah berjuang menyusui secara benar di RS: “Arum-san, bayi itu memang pekerjaannya menangis. Memang biasanya dia menangis karena ada yg nggak nyaman. Tapi, bisa juga dia menangis karena ingin menyemangati mamanya– ia menangis tapi sebenarnya dia sedang bilang dengan caranya sendiri, “Ganbatte, Mama! Ayo kita sama2 bisa!” Jadi jangan sedih atau putus asa ya, itu cara dia bicara dengan kamu… “. Yup, kata2 itu menyadarkan aku kalau memang menangis itu kan cara berkomunikasi bayi dengan kita, jadi jangan dikait2kan dengan kemampuan personal kita sebagai orang tua.

Berangkat dari arti menangis sbg bentuk komunikasi, lama2 kan bayi itu tumbuh besar dan belajar berbicara. But the process takes a long time… dan kalau si anak kecil ini belum bisa mengekspresikan perasaannya dengan kata2 yang benar, ya balik lagi ke bentuk menangis ini. Our job as parents adalah untuk membantu anak kita belajar mengidentifikasi perasaan dan kejadian yang menyebabkan dia menangis, bukan untuk melarang dia menangis. Kita aja sebagai orang dewasa kadang perlu menangis untuk meluapkan emosi yang terpendam, kenapa anak2 nggak boleh juga??

Growing up is not all smiles and laughter. Termasuk buat anak2 kita, ada fase2 tertentu yang mungkin buat mereka agak sulit dilalui begitu saja. With Ken, misalnya sekarang dia lagi giat makan sendiri lagi (setelah lama disuapin makan kembali pas balik ke Indonesia). Sekarang udah masuk ke tahap makan dengan sendok untuk berbagai bentuk makanan (nasi+lauk pauk). Nah, ini kan proses yang kadang bagi dia sulit karena misalnya udah di atas sendok semuanya ehhh pas disuap ke mulutnya ada yg jatuh, atau misalnya nasinya sulit untuk disendok karena tersebar merata di atas piringnya, atau misalnya dia lagi mau memotong sebuah udang tapi butuh tenaga yang extra karena teksturnya agak kenyal. Dan semua ini gak boleh dibantuin, harus “sendiri”. Kalau frustrasi, ya dia mulailah nangis atau tantrum. Tapi sebagai orang tua, kami membiarkan dia menangis atau merengek kesal sambil bilang ke dia “oo, Ken lagi kesel ya karena makanan di sendok jatuh? Ganbatte, yuk coba lagi… coba satu2 dulu atau sedikit2 dulu…”. Kalau ternyata berkembang jadi full-blown tantrum, ya si Ken diangkat dari kursinya trus ditaruh di lantai/sofa dan kami bilang, “Ken lagi kesal ya? Boleh nangis/teriak dulu, Mama-Papa duduk sini yah.. nanti kalau udah selesai kesalnya & nangisnya, ke sini ya peluk Mama.. Mama tunggu sini ya sampai Ken selesai”.

And it worked! Alhamdulillah. Nobody was hurt, only our ears (and maybe our neighbors’ ears). After what seemed like eternity (padahal klo dilihat jam gak sampe 10 menit), he finally stopped the crying-screaming-kicking the floor phase and calmed down jadi sesenggukan… trus dateng deh ke saya untuk “peluk mama”. And then baru deh saya kasih/tanya penjelasan ke dia dgn sesederhana mungkin… misal, “tadi Ken kesal/marah ya? Kenapa? Mungkin Ken marah karena ……., sekarang masih marah nggak? Udah lega ya karena udah nangisnya…” terus diajak melakukan hal lain atau diajak balik lagi ke kegiatan awal yang tadi membuat dia menangis– tapi kali ini dengan semangat baru 🙂

Ini memang bagian dari mengajarkan Ken tentang feelings dan teknik coping dengan perasaan/masalah yang dia hadapi. Kalau lagi nangis dengan kejer2nya, percuma juga dicoba di-soothe atau dicoba dikasih penjelasan logis, karena lagi sedeng2nya keluar tuh semua perasaan buruk dia. Tantrum itu penyebabnya mungkin karena hal sepeleeee banget (misal, salah memilihkan baju, mainannya kesenggol papanya, sampe salah potong roti juga bisa jadi pemicu tantrum). Saking sepelenya, biasanya suami tuh yang gregetan, “masa gitu aja bikin nangis?!?!!”. Nah, di sini aku yang selalu mengingatkan kalau pemicunya memang terlihat sepele, tapi tantrum itu biasanya merupakan keluarnya AKUMULASI perasaan negatif yang mungkin si anak pendam sepanjang hari itu (atau bisa sampai beberapa waktu yang lalu). Ibaratnya volcano, ya magma-nya udah penuh dgn macem2, hanya perlu sedikit pemicu maka keluarlah semua secara campur aduk dalam bentuk tangisan/tendangan/teriakan/guling2an, you name it. Si anak bisa saja sepanjang hari berusaha bersabar menghadapi penolakan2 dari sekitarnya, misalnya mau es krim/mainan di toko terus nggak dibelikan, dia nurut… mainannya direbut sama temen sekelasnya, dia ngalah.. ya terus2an begitu tapi kan mereka juga kadang belum bisa “legowo” untuk bersikap sebagai anak baik (sikap yg selalu kita tekankan kepada mereka)… they’re still learning EVERYTHING, termasuk menghadapi perasaan2 yg mungkin saat ini masih sulit dicerna untuk mereka. That’s why tantrums are so powerful, karena penyebabnya sebenarnya macem2… 😉

Going through new changes in life juga membawa stress ke anak, yg bisa disalurkan salah satunya melalui tantrum atau tangisan yang agak berlebihan. Misalnya, Ken sudah sejak beberapa bulan yang lalu dipersiapkan untuk menerima kehadiran adik baru. Antara mengerti dan tidak, dia ya manut2 aja, asyik2 aja diajak ke dokter untuk lihat “dede bayi” dan juga mengamati perut mamanya yang makin lama makin besar. Kolokan? Makin menjadi akhir2 ini. Tantrum? Oh yes, semakin lama, udah bisa sampai 10-15 menit nangisnya. Tapi ya it’s part of the accpeting change process, karena perubahan ini kan membawa banyak dampak. Dia harus belajar naik jemputan sekolah tanpa ditemani mama, sebentar lagi belajar untuk “main lebih lama di sekolah” alias mulai masuk penitipan anak (yang alhamdulillah banget masih di sekolahan dia jadi gak kaget2 amat), belum lagi dengan kata2 “kasian Mama dong Ken, kan dede bayinya makin berat jadi mama gak bisa ……” dari Papa/Eyang2nya. So all the while dia berusaha menjadi anak yang “baik” dengan “sayang dede bayi”, di sisi lain, bagian perasaannya yang masih nggak rela berbagi perhatian Mama ya dikeluarkan dalam wujud tantrum atau nangis yang agak lama untuk hal2 kecil.

As parents, kami ingin membantu Ken untuk belajar mengenai perasaan2 yang dia alami dan belajar coping dengan emosi negatif juga. It’s part of growing up, dan kadang gak tega ngelihat dia nangis, tapi ya perlu disikapi dengan tenang & dibiarkan si anak ini merasa sedih, if he needs to. Because in life, ada juga hal2 yang akan membuat kita marah/sedih, and our kids need to learn how to cope with this. Kalau sudah agak lebih besar kan bisa mulai diajarkan teknik2 coping yang lain (misalnya secara verbal bilang “aku nggak suka, aku marah, aku sedih karena….” atau dengan tidur sejenak, teriak ke dalam bantal, gambar2, whatever he likes)… tapi sementara masih kecil ya dibiarkan menangis sambil terus dicoba jelaskan soal nama2 perasaan yg mungkin dia sedang alami.

Kalau memang dia menangis marah karena frustrasi belum berhasil melakukan sesuatu, yg paling penting disemangati supaya mencoba lagi.. maybe after he finishes crying, hehehe ;p It’s very tempting for us to just do it for them, tapi kalau begitu terus, kapan dia berhasil mandiri? Mandiri sesuai tingkat perkembangan dia yah tentunya (makanya kudu rajin2 baca buku parenting untuk memantau developmental-stage mereka). Kita mungkin udah lupa bahwa hal2 dasar seperti memasang kancing baju, pakai baju, makan pakai sendok/garpu, minum dari gelas tanpa tumpah2, membangun menara dari balok— semuanya butuh latihan dan perseverance. Jangan sampai kita sebagai orang tua, dengan alasan untuk mempermudah/melindungi/sayang anak (apalagi kalau punya the extra-funds to hire an “all-in-one” nanny), mengambil kesempatan mereka untuk belajar, berusaha, & meraih keberhasilan/belajar dari kegagalan itu.. because they will need those skills to survive in life 🙂 And it’s our best gift for them, untuk mendampingi mereka belajar dan menyemangati mereka… and to let them know that we’ll always be there supporting them — not doing everything for them 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: