Posted by: arumchan | March 10, 2012

Night terrors– lebih menakutkan bagi orang tua daripada bagi si anak

Dini hari ini kami terbangun dengan suara tangisan Ken yang menyerupai tantrum: menangis kencang semi teriak2, guling2, bahkan sampai nendang2 kasur. And the 1st thing that came to my mind was: oh no, not another night terror!

Yup, night terror. Similar yet DIFFERENT than a nightmare. Alhamdulillah, ndilalahnya beberapa bulan lalu pas lagi buka2 Fb, ada artikel mengenai night terror yang dibahas oleh salah satu parenting site yang aku subscribe newsfeed-nya… I read it, dan gak lama setelah itu terjadi night terror untuk pertama kali pada Ken. (I believe there are no coincidences in life, semuanya udah diatur sama Allah, jadi alhamdulillah untuk petunjukNya jauh sebelum ini semua terjadi 🙂 ) Jadi ketika pertama kali Ken mengalami night terror, alhamdulillah aku nggak mikir yang macem2, because believe me, it’s a pretty scary thing to watch your child go through. And today’s night terror was the 3rd time for Ken, and still scary to watch. Why is it so scary?

OK, definitions. Night terror adalah sejenis gangguan tidur yang pada umumnya dialami oleh anak kecil, sometimes as young as 9 months or 1 year dan biasanya akan menghilang dengan sendirinya seiring si anak tumbuh besar. Gangguan tidur ini terjadi pada tahap deep, non-REM sleep (tidur tahap 4), dimana biasanya pada tahap ini tidak ada mimpi sama sekali. Bedanya, kalau nightmares atau mimpi buruk itu terjadinya pada REM sleep (tidur tahap 5) sehingga kalau anak mengalami mimpi buruk maka akan mudah dibangunkan dan di-comfort, dia juga akan mengingat isi mimpi buruknya. Nah, karena si night terror ini terjadinya pada tahap deep, non-REM sleep, maka ketika kejadian si anak akan susah sekali untuk dibangunkan, walaupun dia tampak dalam keadaan “bangun/sadar/melek”.

What’s it like? Hidup dalam masyarakat yg memiliki nilai2 religius & budaya yang beragam, secara awam maka si anak ini paling gampang dikira kesurupan atau diganggu makhluk halus. Yes, not a pretty picture. But insyaAllah, no, it’s not because of that. And yes, your child is still a happy & normal child 🙂 Scientifically, ketika mengalami night terror, maka si anak akan:

  • terlihat sangat ketakutan atau marah, tapi nggak bisa dibangunkan atau ditenangkan. Bahkan, kalau dicoba dipeluk/dipegang biasanya akan semakin ekstrim reaksi marah/ketakutannya.
  • menangis, teriak2, guling2, berdiri, bahkan mendorong kita menjauh atau melakukan perbuatan2 lain seolah2 dia dalam keadaan sadar (dan kadang dengan mata terbuka/melek)
  • seolah2 nggak mengenali kita walaupun matanya terbuka dan dia tampaknya bangun/sadar tapi memandangnya “melewati” kita
  • benda2 atau orang2 di sekeliling anak ini bisa disangkanya sebagai ancaman baginya (makanya dia bisa jadi seolah2 menyuruh kita pergi atau mendorong kita menjauh)
  • kejadian ini bisa berlangsung secepat 5 menit hingga selama 30 menit
  • setelah selesai, si anak akan tenang dengan sendirinya dan tertidur pulas kembali, ketika bangun nggak akan ingat kenapa dia menangis
  • biasa terjadi pada tahap2 awal tidur (kira-kira 2 jam stlh tertidur) atau pada dini hari— kalau Ken terjadinya sekitar subuh, dan biasanya terjadi ketika dia tidur malamnya sangat “telat” (setelah jam 11 atau mendekati jam 12)
  • night terror nggak menimbulkan trauma/luka apa2, hanya ketika terjadi kita sebagai orang tua cukup menjaga supaya si anak nggak terbentur apa2

What to do when it happens? Well, painful to watch, but it’s best to wait it out. Yah, ditungguin sampai selesai tanpa dicoba untuk dibangunkan/ditahan/ditenangkan– karena biasanya akan semakin “parah” atau lama durasinya. Paling2 si anak diamankan sekelilingnya supaya nggak terbentur dinding atau yg keras2 atau terjatuh dari tempat tidurnya. Inget, kan mereka dalam keadaan TIDUR LELAP, jadi mau dicoba dibangunkan juga percuma (dan nggak bisa sampai bener2 selesai). Bolehlah nungguin si anak sambil kita berdoa/berdzikir dalam hati, tapi nggak perlu sampe manggil2 “orang pinter” pas tengah malem buta atau dicipratin2 air kembang 7 rupa ;p

Night terror Ken yg pertama bikin kaget dan bangun aku & suami, tapi alhamdulillah udah dapat petunjukNya berupa artikel night terror beberapa waktu sebelumnya, jadi kita amati & didiamkan (sambil dalam hati berdzikir & berdoa yah, teteup). Nah night terror yang ke-3 ini, suami udah sampe tahap bangun sebentar (nyadar) trus beranjak tidur lagi, tapi terbangun (lagi) karena kali ini night terrornya menyerupai full-blown tantrum (crying, kicking, screaming, rolling around, sampe mau keselek segala saking kejernya). It lasted for a good 30 minutes I think. My bad, ketika mulai tenang, aku coba elus2 kepalanya, ehhh balik ngamuk lagi. His bad, ketika mulai tenang (lagi) dia pindah ambil posisi tidur di sebelah Ken, malah jadinya dia berdiri dan nunjuk2 suruh pergi sambil teriak2 & nangis2. Jadi akhirnya hubby hijrah tidur ke lantai bawah, aku duduk aja di ujung tempat tidur sampai dia tenang trus terbangun beneran dan datengin aku sambil bilang, “Mama, Ken kenapa nangis??”. Gubrak! And in just 3 minutes, dia balik ke posisi tidur andalan dia, narik selimut, ngajakin aku tidur, and he was sound asleep again, alhamdulillah. Alhamdulillah juga gak didatengin tetangga/satpam pagi2 buta gini 🙂

Ok, switch channels– back to the scientific part. Why does it happen? Penyebabnya lebih sering dikaitkan dengan anak yang terlalu capek (overtired) dan kurang waktu tidurnya. Penyebab lainnya mungkin juga karena ada suatu stres yang sedang dihadapi oleh si anak.

With Ken, setelah 3x night terror, aku perhatikan memang semuanya terjadi ketika siang hari sebelumnya Ken jam tidur siangnya kelewatan/kepotong pendek dengan diikuti waktu tidur malam yang kelewat larut (padahal siangnya udah dikit tidurnya atau malah gak tidur sama sekali). Yahh itulah lika-likunya punya anak yang memasuki usia toddlerhood yang berjiwa kalong alias makin malam makin menjadi (bangunnya, maksudnya, hehehe). Lalu, akhir2 ini kan Ken sedang dipersiapkan untuk menerima kehadiran adik baru, dimana perubahannya ya mencakup hampir semua aspek kehidupannya, nggak drastis tapi cukup berat-lah untuk seorang anak tunggal yang terbiasa mendapatkan full-attention dari mama-papanya. Selama ini dia sih menerima perubahan ini dengan cukup baik (yah pelan2 juga dilaluinya) tapi mungkin karena semakin mendekati waktu persalinan maka semakin terasa perubahannya: yang terbaru adalah dia dicoba untuk naik school bus dengan ibu guru pas pulang playgroup (instead of dijemput sama mama seperti biasanya) dan perubahan sementara fungsi kamar mainnya jadi kamar tidur keluarga untuk membantu pemulihan mama pasca-operasi c-section nanti. Those are all big steps for my small toddler to take, walaupun tampaknya dia melangkah dengan ceria tapi yah sisi yang “kurang ceria” mungkin dikeluarkan via night terror ini, huhuhu… ;(

Yah, if you’re reading this and you know parents that are experiencing the same, monggo disebarkan informasinya. Dan jangan lupa di-infokan juga ke eyang2 dan pengasuh yang lain, jadi nggak pake episode kaget2an dari mereka juga 😉

Advertisements

Responses

  1. Ahhh pas…. Kaff jg lg sering night terrors… Pantesss tiap mau dipeluk malah ditendang gue :p tengkyu yah rum 4 sharing 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: