Posted by: arumchan | August 24, 2011

Berani memulai..berani ditegur…bismillah!

Sudah 2 hari ini alhamdulillah berani menerapkan anjuran dari Ust. Najam, yaitu setelah tahajud lalu berdoa meminta petunjuk Allah SWT, lalu membuka Al-Qur’an secara random.  I’ve heard this a few times before sejak dulu… but I guess deep down in my heart belum “berani” untuk “ditegur” langsung sama Allah.. I mean, berdoa kan lebih kepada kita yg “berbicara” dan “meminta” dengan Allah, but randomly opening Al-Quran, if you have faith, insyaAllah nggak ada kebetulan yg nggak direncanakan sebelumnya oleh Allah SWT. Kan Al-Quran sebagai petunjuk hidup kita, I hope this is a start for me and my family untuk insyaAllah lebih “melibatkan” Al-Quran in our daily lives, nggak hanya sekedar dibaca from time to time atau dibahas ketika pengajian.
Jadi waktu pengajian keluarga besar waktu hari Minggu lalu, ketika dibahas salah satu ayat Al-Quran mengenai “waktu yg paling baik” untuk mengaji dan mendapatkan perkataan yg berat (uhm, roughly meaning “pelajaran” yg berkenaan klangsung dengan keadaan kita saat itu) yakni setelah tahajud, I decided to finally try. And anyways, at least bisa menyebarkan “1 ayat sehari” 🙂

So yesterday, the ayat that opened was the end of QS Al-Kahfi and the beginning of QS Taha. I opened it twice, hehehe ;p Dan ayat yg menonjol adalah, بسم الله الرحمن الرحيم:

QS 20:112
Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.

QS 20:124-127

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”.Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.

QS 20:130-132
Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang, Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.

Subhanallah, mengena sekali. Weekend kemarin, ada kejadian yg kami ketahui, alhamdulillah nggak berkenaan dengan kami sih, tapi cukup diketahui untuk diambil pelajarannya, berkaitan dengan: uang. Yes, apalagi yg bisa bikin masalah kalau bukan urusan materi dan kawan2 lain yg mengikutinya, misalnya soal harga diri, respect, honesty, dll. Dan ada siiih suatu hal kecil yg berkenaan dengan lika-liku pekerjaan hubby, and we’re preparing for what could happen (well, I’m preparing to be a supportive wife that is, hehehe). Dengan membaca ayat2 di atas, alhamdulillah jadi lebih tenang… dan diingatkan oleh Allah untuk stick to the right path and not be blinded by kelebihan2 yg dimiliki orang lain in this life (hey, yang kekal kan akhirat, bukan hidup ini lho…). And not to forget about having Al-Quran as the “guide book” for this life and afterlife, karena aku pribadi yaah selama ini masih treating the Qur’an as a sacred book that belongs on the shelf, astagfirullah.. I mean, it’s still sacred and I treat it with respect, but I think it shouldn’t stay on the shelf too long, it should be looked and read and pondered each day.

Dan pagi tadi nyoba lagi… yg keluar adalah awal dari QS As-Sajdah, yang aku renungkan adalah, بسم الله الرحمن الرحيم

QS 32:9
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

Yah, we only live once. And we should fill our lives with ibadah, good deeds, amal sedekah, dan rasa syukur… yg terakhir yg suka kadang2 kelupaan, astagfirullah. Sometimes sekeliling kita membuat kita lupa akan betapa banyaknya nikmat kita yg nggak ternilai dengan uang. Kadang lebih mudah mengeluh dan selalu melihat apa yg kita belum/nggak punya. Padahal, untuk punya pendengaran, penglihatan, hati nurani, dan panca-indera lainnya beserta kesehatan, ketenangan hati, keharmonisan keluarga, dan nikmat2 immaterial lainnya itu adalah sesuatu nikamt yg besar sekali, yg nggak terbeli dengan uang. Kalau ada yg hilang, mungkin uang yg dipakai untuk mencarinya lagi nggak sedikit. Tapi ketika udah ada, kadang kita suka nggak “ngeh” dengan apa yg ada.

Kalau sekarang ini di sini lagi heboh2nya menyambut Lebaran, banyak sale di mana2, ada trend untuk beli baju baru, masak hidangan mewah yang banyaknya bisa untuk ngasih makan 1 pleton tentara, kasih parcel sana-sini. I mean, namanya juga marketing. But one thing we should remember: lebih baik memberi daripada menerima (atau meminta). Dan sebaiknya yah selayaknya aja, nggak usah jor-joran. Yg penting kan kalau Idul Fitri itu adalah semangat baru untuk menjadi manusia yg lebih baik dan lebih cinta kepada Allah.. silaturahmi dengan keluarga.. tetap mempertahankan tingkat ibadah dan infaq-sedekah seperti yg dilakukan ketika bulan Ramadhan… jangan sampai deh kita lupa dengan esensi yg penting2 ini!

Kalau bercermin kepada Idul Fitri yg lalu2 waktu masih di Matsuyama, di sana walaupun nggak heboh, justru khidmatnya lebih terasa. Betapa susahnya mencari izin dan lokasi untuk solat Ied dan halal-bihalal di negara yg nggak kenal Lebaran, trus sama2 ganbatte masak hidangan ala kadarnya untuk di-share bersama2, karena ya keluarga kita yg di negeri sakura hanya mereka.. yang sama2 terikat tali agama Islam. Udah nggak peduli mau pake baju baru kek, mau pake sendal kek, mau datang pake sepeda kek, mau masak apa kek… yang penting bisa solat, silaturahmi, dan makan2 enak (kesempatan buat menikmati lontong nihhh yang buatnya ampuun deh repot bener hehehe ;p). Kadang di sini lebih ribet soal hal2 yg sepele (dan lebih kepada pencitraan diri sendiri dan keluarga ketika halal-bihalal hahahaha). Yah semoga saya & suami bisa megajarkan esensi yg penting dari Idul Fitri kepada si Botchan.. amin!

Advertisements
Posted by: arumchan | July 26, 2011

An article about education by Rhenald Kasali

Another reason for me to homeschool… insyaAllah semakin kuat tekad kami, semoga diridhoi Allah SWT, aamiin 🙂
Deep Understanding – Rhenald Kasali, SINDO 21 Juli 2011

Deep Understanding

Salah satu teka-teki yang masih saya ingin tahu jawabannya sepanjang
lebih dari 25 tahun menjadi pendidik adalah: mengapa anakanak kita
kesulitan mengungkapkan isi pikirannya?

Â

Maksud saya,kalau diberi pertanyaan, kok jawabannya pendek sekali dan ingin
cepatcepat selesai. Selain tidak argumentatif, terasa miskin dalam konsep.Di
Harvard Michael Porter, guru besar ilmu manajemen terkemuka yang menularkan
metode pengajaran partisipatif pernah memberi tahu resepnya.

 ”Ajukan cold call, tunjuk seseorang secara mendadak, lalu gali
perlahan-lahan. Mereka mungkin kurang siap, tetapi buatlah sebersahabat mungkin
agar mereka nyaman berbicara.” Saya pun menerapkannya, dan ternyata hanya
berhasil di tingkat pendidikan S-2 dan S- 3. Di tingkat S-1, saya butuh waktu
banyak sekali untuk menggali dan mengeluarkan isi pikiran mahasiswa saya.

Dan kalau dikejar lebih jauh, mereka menjawab seragam: ”Ya gitu deh!” Dan
kalau sudah mentok, keluarkanlah jargon asyiknya: ”Au ah, gelaap…”
Tetapi,saya tidak menyerah. Sampai di pertengahan semester, satu persatu mulai
berani memberi jawaban yang agak panjang, lebih panjang, lebih menyatu, dan
sistematis.

Dan tahukah Anda, di situlah letak kebahagiaan seorang pendidik, yaitu saat
anak-anaknya mendapatkan apa yang disebut ”deep understanding”.

Hubungan Kompleks

Orang dewasa seperti bapak dan ibu yang telah lulus menjadi sarjana dan bekerja
barangkali pernah merasakan betapa sulitnya memahami
hubungan-hubungan yang kompleks dalam sebuah teori. Nah, kemampuan
seorang anak menangkap hubunganhubungan yang kompleks dalam sebuah teori atau
konsep itulah yang kita sebut sebagai deep understanding.

Jadi bukan sekadar tahu banyak hal namun serbasedikit. Bukanlah sekadar
menguasai permukaan-permukaan yang ngepop atau sekadar fragmented pieces of
information. Deep understanding sangat diperlukan dalam dunia pendidikan, dan
untuk itulah seorang guru dituntut untuk bersabar dan memeriksa apakah betul
murid-muridnya sudah paham dan bisa mengerjakannya.

Pendidikan seperti itulah yang sebenarnya dirindukan anak-anak kita. Bukan
seperti sekarang yang dikenal anakanak dengan istilah SKS (sistem kebut
semalam). Guru-guru yang bijak tahu persis otak manusia memerlukan waktu untuk
merangkai satu elemen dengan elemen-elemen lainnya.

Ibarat orang membuat kue lapis legit, dibuatnya harus dengan penuh kesungguhan,
dari selapis tipis yang satu ke lapisan tipis berikutnya. Sebaliknya, metode
sistem kebut satu malam yang banyak dianut dewasa ini sepertinya sangat
mengabaikan kapasitas belajar para murid.Guru ingin cepat-cepat berpindah dari
satu halaman ke halaman berikutnya.

Penjelasan-penjelasan mendasar sebuah konsep sering terputus,sehingga anakanak
kesulitan memahami suatu konsep secara mendalam. Cara seperti ini sungguh kejam.
Ibarat sopir metromini atau taksi liar, guru bisa dipacu menjadi ”sopir
tembak” yang ugal-ugalan ”kejar setoran”.

Tidak mengherankan bila menjelang ujian, guru, dan murid sama-sama panik.
Guru-guru yang cerdik tentu tak kehilangan akal, digunakanlah dulu yang kita
kenal sebagai ”jembatan keledai” saat ujian di SLTA dulu tentu mengerti
mengapa disebut demikian. Guru dan murid telah kehilangan sesuatu yang sangat
berarti dalam pendidikan, yaitu waktu. Kita tak bisa menyimpan waktu, apalagi
membelinya.

Tetapi, kita tidak bisa memberi mereka waktu yang lebih banyak untuk pen-dalaman
suatu konsep. Caranya sederhana saja, rampingkan jumlah mata ajaran yang harus
diberikan dan berikan metode yang lebih aktif –kolaboratif.

Saya sering diprotes oleh orang-orang yang khawatir mata ajarnya tidak relevan
lagi bila pemerintah kelak mendengarkan tulisan reflektif ini dengan mengurangi
jumlah mata ajaran yang harus diambil para murid.Tetapi selalu saya katakan,kita
harus berani berkata jujur bahwa anakanak kita telah mengalami penyiksaan otak
yang rawan.

Dan dampaknya sudah kita rasakan saat ini dengan beredarnya orang-orang bergelar
hebat, pintar, tahu banyak, tetapi selalu bingung harus bergerak ke mana dan
harus memulai dari mana.

Kreatif dan Reflektif

Saat menulis kolom ini saya pun tengah membongkarbongkar program-program belajar
dari berbagai sekolah di mancanegara. Bila disimak
tulisan-tulisan saya dua minggu terakhir, perampingan-perampingan telah diambil
sejumlah bangsa dalam beberapa tahun terakhir ini.

Di sebuah sekolah di Jepang, saya menemukan sebuah buku pedoman belajar dengan
tujuh pilar, yaitu berpengetahuan dengan ”deep understanding”, mampu
berpikir kompleks dan menjadi pemecah masalah,kreatif namun reflektif, menjadi
kontributor yang bertanggung jawab, termotivasi dan terkendali, independen namun
interdependen, dan mampu menjadi komunikator yang efektif.

Ketika saya masukkan katakata kunci di atas di mesin pencari di internet, saya
pun menemukan kesamaan dari banyak sekolah di negara-negara maju bahwa
melahirkan orang kreatif saja tidak cukup, tapi juga harus menjadi kontributor
yang bertanggung jawab dan reflektif.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita membentuk manusia-manusia seperti
itu? Anda mungkin mulai merasakan kegalauan- kegalauan saat orangorang kota yang
sudah memiliki kendaraan
(roda dua maupun roda empat) tidak bisa membedakan (bahkan tidak tahu
cara memakai) antara klakson dengan rem.

Saat posisi di jalan raya kejepit atau tidak bisa menyusul, bukan rem yang
dipijak, melainkan klakson. Saya tidak tahu apa jawaban yang harus diberikan
untuk membuat seseorang menjadi hebat, tetapi mungkin saya tahu apa kunci
kegagalan yang akan dialami bangsa ini.

Yaitu, saat kita merasa bangga dengan banyak pelajaran yang kita dapatkan,
padahal semua itu hanya kulit-kulitnya.Hanya sepotong-sepotong, miskin
pendalaman dan tidak reflektif. 

RHENALD KASALI Ketua Program MM UI
Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/414362/34/__

Posted by: arumchan | July 15, 2011

A simple reminder

Kemarin waktu lagi buka FB, ada status message teman yg nulis sesuatu yg menyentil…

“Jangan risaukan Nikmat yang belum kita miliki, tapi risaulah akan Nikmat yang belum kita Syukuri…”
Terkadang Allah menganugerahkan Nikmat melalui MASALAH & memberi MASALAH melalui Nikmat.
Semoga apa yang kita terima hari ini merupakan Nikmat Allah yang terbaik untuk kita & menjadikan kita senantiasa bersyukur…
Amin ….”

Yeahhh, I can feel the knives… jleb… astagfirullah ya Allah... I don’t want to be hamba-MU yg kufur nikmat. But thanks for YOUR reminders.. so I can learn to be thankful each day. Like I say, each day is a blessing.. *ceritanya mau positive self-talk*.

Semalam, I enjoyed just being with my Botchan and Hubby. Kita solat Maghrib berjamaah, Botchan pakai kaos putih hubby jadinya dia seperti syekh Arab.. reminds me of one of my neighbors waktu di Matsuyama dulu hehehe ;p And subhanallah, selama solat Maghrib itu, Botchan bener2 berdiri ngikutin.. awalnya megang mobil2an pas takbiratul ihram pertama, dia buru2 ngelempar mobilnya ke sudut sajadah trus ikut berdiri dan dengerin hubby jadi imam. Sepanjang Al-Fatihah, Botchan nyebutin akhir2 ayatnya (hiiim….miiin…. hiim….diiin…) trus ikut “amin” pas bagiannya.Dia udah mulai sedikit2 bisa rukuk (selama ini langsung sujud) walaupun masih cepet banget.. trus pas sujud ikut sujud, dan pas tahiyyat ikut ber-jari telunjuk pas syahadat. Dan 3 rakaat. Yes, alhamdulillah bisa dari awal-selesai. Great for a 2 yr old with a short attention span hehehe :p

Setelah solat, I was thinking.. ini adalah nikmat Allah yang kadang lupa untuk bener2 disyukuri. I mean, we’re always thankful for material things, but moments like these are priceless. These are the greatest things in life. Aku terus berusaha beradaptasi dan mensyukuri what we have now, where we live now, our conditions now.. walaupun selalu ingin balik ke Matsuyama, tapi I must keep the faith that Allah brought us back here to Indonesia for a reason. And if I pray and try hard enough, one day insyaAllah we can go back to Matsuyama again and live there. The reason is all Allah’s.
I can only have faith and be thankful.. and guess from time to time hehehe 😉 Maybe it’s for me to make someone else’s life better. Maybe it’s for me to realize what my priorities are. Maybe it’s for me to establish a solid homeschooling foundation for Botchan. Maybe it’s for me to learn enterpreneurship and give others the chance to have a better life (in terms of earnings) by working with me. Maybe it’s so I can be here and support my family or friends in need of moral support. Maybe it’s for me to develop my culinary skills, using ingredients from my own country and having a broader access (and understanding of contents) of safe to use (not haram) imported ingredients as well. Maybe it’s so I can have the chance to experience cooking with ingredients fresh from it’s source.. like buying a live ayam kampung and paying the guy to slaughter it (it tastes great, by the way). Maybe it’s giving me the chance to grow my own herb garden.. and enjoy afternoons with my son in our front yard terrace. Maybe I can be an inspiration to someone. Maybe I can gibe the title “ibu rumah tangga” a good name. Maybe…. it’s all of the above and more. More faith… deeper faith.. 🙂

So of course, life must go on.. and I must be thankful.. 🙂

Posted by: arumchan | July 14, 2011

A song for Hubby & Botchan

Thanks so much for putting up with me when I was busy making marshmallows. I know there’s a pile of laundry waiting to be washed, the play-room to be cleaned and organize back to its original state, floors to be mopped, favorite foods to be made, batteries to be changed, and rooms to be organized back to neatness… and I look forward to doing them again! (hahaha, being a budding entrepeneur can do your mind wonders! Enjoy it while it lasts!) InsyaAllah it will be better, I’ll be more organized, and we’ll make it work.. coz you both are my top priority, and I’ll do my best to make sure it stays that way! I love you both so much…

Feel My Love — by Adele

When the rain
Is blowing in your face
And the whole world
Is on your case
I could offer you
A warm embrace
To make you feel my love

When the evening shadows
And the stars appear
And there is no one there
To dry your tears
I could hold you
For a million years
To make you feel my love
[ Lyrics from: http://www.lyricsmode.com/lyrics/a/adele/make_you_feel_my_love.html ]
I know you
Haven’t made
Your mind up yet
But I would never
Do you wrong
I’ve known it
From the moment
That we met
No doubt in my mind
Where you belong

I’d go hungry
I’d go black and blue
I’d go crawling
Down the avenue
No, there’s nothing
That I wouldn’t do
To make you feel my love

The storms are raging
On the rolling sea
And on the highway of regret
Though winds of change
Are blowing wild and free
You ain’t seen nothing
Like me yet

I could make you happy
Make your dreams come true
Nothing that I wouldn’t do
Go to the ends
Of the Earth for you
To make you feel my love

Posted by: arumchan | July 5, 2011

A letter for my son

For my “big boy” of mine…

As I’m writing this, you’re still asleep in your diapers and PJs. But the moment you wake up, your laughter and chatter will fill up my day. We’ll go about with our day together…playing, eating, cooking, cleaning, watching TV, gardening– whatever it is, you’ll be there by my side. Most of the time busy with your version of “big kid” activities, sometimes whining and the occasional crying for attention or out of frustration when things just don’t go “your way”.

I truly enjoy spending every moment with you around, I know times like these will pass by ever so quickly. Before I know it, you’ll be all grown-up and spreading your wings to start your own adventures, test your own waters. And insyaAllah, I know that day will come. And InsyaAllah, I’ll always be here when you need me. But this I will promise you, insyaAllah… I hope I can be a mom that you’re proud of. I hope I will be a mom that can pre-occupy myself with hobbies, interests, and passions that we can talk about whenever you find time to visit me. InsyaAllah your dad and I will enjoy spending our old days together, enjoying each other’s company whenever you’re not around to visit. We don’t want to nag you and make you feel guilty for not spending every single weekend with us when you’re an adult and have your own family. InsyaAllah we won’t rely on you to do our errands, but if you want to help or take us we’d always appreciate the time spent together. We know you’ll find the time amidst your activities to come home and visit, maybe even spend the night or two. Anytime you decide to drop by, we’d always love your company– the doors will always be open for you. And we’ll always call first to ask if it would be okay to drop by your place every now and then. And hey, it’s okay to say no, even if you’ll just be staying at home and sleeping for the day.

InsyaAllah we’ll have had our chance to be first-time parents and raise you ever since you were born, so we’ll stand back and let you and your wife learn to be parents as well. We’ll just enjoy our statuses as grandparents and be just a phone call away whenever you need help, advice, or a baby-sitter. (And we’ll send you parenting books as well for handy info, we hope you read them or at least, skim through them and bookmark the important parts, haha). We won’t take part in the “grandparent wars”, we’ll let you decide how often our face-time will be. Even though we’ll spoil our grandchildren, we’ll always check-in with you and your parenting principles.

I know this seems too early, but I just want to make a reminder for myself because as people grow older they tend to forget things (I know I do) and people say that you become more childish when you are at that old-age (now this, I probably won’t admit myself either, haha). And this is also a promise to you, that insyaAllah I’ll try to be the best mom I can for you. I’ll try to teach you all the important things and virtues in life, with good Islamic values as the light of your path. InsyaAllah I’ll do my best in letting you grow, develop, and learn at your own pace, helping you through the tough times without crippling your ability to learn from your mistakes. I want to support your interests, passions, and help you find your talents.. so insyaAllah you will live a fulfilling life spiritually, mentally, and physically. (But hey, you’ll still have to learn the basic school subjects, hehehe). I’ll point out right and wrong, hopefully in a way that will help you grow into a better (not bitter) person. And I’ll keep on learning and expanding my knowledge about parenting and about you as my son.. I’ll try to listen, not just hear. I’ll try to not be judgemental as long as I can have your honesty. And God knows I’ll try to be as patient as a mom can be (I’ll be angry at you sometimes, but please remember that I’m not angry AT you but I’m angry at your behaviour. I still love you, always will).

I know Allah entrusted you with me and your dad to make us into better people and have a better life. And I keep on reminding myself that even though I am your mom and you are my son, technically you are Allah’s creation and you are not “mine” as an “asset” or a “throphy” (please always remind me to say alhamdulillah if somebody praises you).  Kamu amanah Allah yang paling berharga. And all I can do is be thankful for you and pray that I can fulfill my role as the best mom for you, insyaAllah.

Lots of love always,

Mama

 

PS: Papa also thinks the same way as I do in this letter. He loves you too. 🙂

Posted by: arumchan | April 1, 2011

keeping the faith

Alhamdulillah, sudah akhir bulan (bahkan udah tgl 1 nih pas nulis ini). Alhamdulillah Hubby sudah dapat honor dari kantornya. Gajinya belum.. insyaAllah awal bulan Mei baru dapat yg selama ini tertunda.. tapi untuk sementara udah alhamdulillah sekali dengan honor bulan ini, bisa bernafas agak lega :’)

Suami alhamdulillah bekerja jadi PNS, tapi sekarang masih CPNS. Kalau memperhitungkan standar gaji CPNS dengan biaya hidup sekarang di sini, memang sepertinya angkanya jauh— jauh lebih tinggi angka biaya hidup maksudnya ;p Perasaan udah mencoba sehemat mungkin dalam belanja, tapi kok angkanya tinggi terus yah… belum lagi ada rencana insyaAllah mau memasukkan Botchan ke playgroup, yang juga biayanya lumayan dengan SPP yang lumayan pula (rencana Homeschool masih nunggu Botchan agak besar, insyaAllah menjelang masuk SD hehehe). Dan semua keinginan/rencana/kebutuhan lainnya yang membutuhkan persiapan dana yang ehem..ehem..

But like my mom said, kalau lihat dari struk gaji, kita bertanya apakah akan cukup untuk hidup sebulan ke depan… tapi yakinlah bahwa Allah Maha Kaya dan rezekiNya sangat luas. Jadi berapapun yang didapat harus dicukup-cukupi, semua rencana dibuat prioritas dan direncanankan berdasarkan dana yang ada. Tanpa rasa cukup itulah maka gaji sebesar apapun nggak akan pernah cukup. Dan rezeki Allah bisa datang dari mana saja, siapa saja, dan dalam bentuk apa saja.. not just money or material things but hal2 penting lainnya seperti kesehatan, ketenangan hati, keharmonisan keluarga, dan hal penting lainnya… things that money can’t buy dan hanya datang dari kasih sayangNya terhadap kita.

Kalau banyak denger cerita tentang mudahnya mendapatkan uang yg nggak halal asal-usulnya, apalagi dunia kerjanya Hubby yang we-all-kow-what-can-happen-but-is-considered-taboo-to-talk-about, saya hanya pesan sama Hubby: awas, jangan sampai yang seperti itu dibawa pulang dan diberikan ke kita. Adjust yourself to the flow tapi jangan terseret arus. InsyaAllah aku yakin kalau niat kita untuk mencari rezeki yang halal, yang diridhoi oleh Allah SWT, insyaAllah rezeki kita akan dicukupkan olehNya, karena Allah Maha Kaya.. Dia bisa memiskinkan siapapun hanya dalam sekejap, begitupula menjamin kebutuhan kita walau di saat yang genting sekalipun…

Posted by: arumchan | March 24, 2011

So little (free) time, so much to do…

Kadang kalau Hubby pulang, suka nanya: hari ini ngapain aja sama Botchan? Hmm… jawabannya bisa bervariasi, tapi basically revolves around playing at home and doing the housework. Trus in the corner of his eye I can see that he’s mentally asking: just what housework did you do, since this house is still generally in a “mess”.. nggak “cling” seperti tampilan interior rumah dalam iklan, hahaha..(ya iyalahhh, gimana mau “cling” when I have a 2 yo running around my house??)

Well, actually I can do more housework than I usually do IF: every moment Botchan is not awake (in the early mornings and when he takes his midday nap) I COMPLETELY immerse myself in housework. Nights are out of the question since I’m usually too exhausted and it’s family time after hubby gets home from work 😉 Or, if on that particular day I can get Botchan to do an activity by himself alongside me while I’m doing some sort of housework– so far being doing the laundry (hanging, folding) and on great days I can even do the dishes while Botchan is on the kitchen sink next to me, watching and playing with the tap water 😀 And don’t forget then there’s those days I have to run errands or do some shopping, which will take more time away as well:(

But…. as a full-time stay-at-home-mom, I still have my passions and interests, whatever you call them– some area of knowledge that attracts me to the laptop like a magnet so I can google the topic up and learn. No, I’m not talking about facebook– although I do check the status updates daily 🙂 And I should put aside more time to blog (all the pictures are still somewhere in my camera or laptop, waiting to be published and blogged about). But the one that takes up all this time is my main BIG passion: the culinary area.. from recipes to techniques, all the articles can fill up my spare time. Traditional food/snacks, bento-ing, very basic cooking techniques, pasta, cake/desserts… it keeps on going.. And now there’s a growing interest in small-space gardening as well– nowhere near being a “green-thumb” or as Indonesians say “bertangan dingin”, but I’m really interested in growing my own herbs (basil, etc.) and hopefully some veggies as well. Sorry, I don’t think I have sustainable interest in flowers, just in something that I can COOK with hahaha 😀 At this moment I’m also on wait-list to order some herbs to plant, baru ada minggu depan benihnya kata orangnya.. dan merencanakan jalan2 ke toko trubus untuk lihat2 produk di sana, siapa tau ada benih tanaman yg bisa ditanam nantinyaaaa.. berhubung masih baru jadi masih fokus ke herbs dan pingin cari tanaman cherry tomatoes, hehehe 😉

Itu di atas belum termasuk the “have-to-make-time-to-do” things like physically scrapbooking Botchan’s development & milestones (as opposed to blogging about it on the net) and organizing our re-arranged home (still have Hubby’s office to organize, haven’t finished organizing our closets, still have to organize my bento and small various cooking utensils, and I have yet to make an area for my stuff). So little (free) time, so much to do..

Sepertinya nanti klo insyaAllah udah ada budgetnya, harus nyari pembantu yg pulang-pergi deh, just to do the time& energy-consuming housework like the dishes, clean the bathrooms, that sort of stuff. Syukur2 klo bisa ngupasin bawang merah bawang putih buat aku pake masak nantinya, hahaha! Teteuplah yg utama aku sbg home-maker 😉

Okay, gotta go… Botchan is up! (and so is my free time in the morning)

 

Posted by: arumchan | February 4, 2011

The next big step: homeschooling??

It all started when I went to the bookstore with hubby and Botchan. Aku iseng skimming buku pelajaran untuk kelas 1 SD, penasaran seperti apa sih dunia sekolah sekarang? Dan busettt, I did not like what I saw:

  • Buku yg isinya banyak tulisan… not just a few sentences, tapi udah memenuhi persyaratan untuk dikategorikan sebagai paragraf… padahal di sekolah internasional dan di LN, kelas 1 adalah waktu untuk belajar membaca dan menulis. Dan setahu saya, ada aturan bahwa TK tidak boleh mengajarkan membaca dan menulis.
  • Materi yg seinget saya sih waktu saya SD dulu baru dipelajari ketika kelas 5 SD.. saya sampe cek ulang untuk memastikan klo saya gak salah buku…
  • Terjemahan Bhs.Inggris pada buku teks yg bilingual, yg perintahnya udah mengandung kata2 “organize”.. please raise your hand if you understood the word “organize” when you were in 1st grade…anybody?
  • Bab pertama beberapa buku yg isinya mengenai sudut & jarak antara buku pelajaran dengan mata si murid, lalu perintah untuk “mendengarkan guru di kelas” untuk melengkapi pelajaran bab itu…

I thought it was absurd! I mean, for me, it’s too much, too soon.. Aku yg udah selesai bangku sekolah formal aja serem bayanginnya, gimana Botchan nanti? Lalu, gak berapa lama kemudian ada acara keluarga.. di sana sempet ngobrol2 dengan saudara yg punya anak2 yg duduk di kelas 1 & 2 SD biasa.. trus mereka cerita (atau ngeluh ya?):

  • masuk SD negeri pake tes baca tulis, apalagi untuk SD negeri yg katanya sih unggulan atau percontohan..
  • anaknya ke sekolah pake tas koper gredekan, karena bukunya banyak.. dan terlalu berat in total to carry.. ya iyalah, klo sehari ada sekian jenis mata pelajaran, masa bawa buku cuma 3?
  • PRnya banyak dan emak2nya yg harus ikutan belajar, dan mereka yg deg2an pas anaknya ulangan
  • pelajaran yg sangat beragam mulai dari kelas 1 SD.. ada Bhs.Inggris, di swasta ada yg dikasih Bhs.Mandarin, klo di daerah ada bahasa lokal, IPA, IPS, PPKn, Mtk, Bhs.Indonesia, Olah Raga, Seni… i dunno apa lagi.
  • mereka dengar cerita anaknya temennya atau kenalannya temennya yg mogok sekolah tanpa alasan yg jelas
  • bahkan salah satu dari mereka berniat “nge-les-in” anaknya ketika naik ke kelas 3 SD nantinya, karena udah gak kuat ngajarin…

Okay, I’ve heard enough— atau lebih tepatnya, I don’t want to hear anymore. Takut semakin miris dan antipati denger nasib pendidikan dasar saat ini. As I said, too much, too soon. Dan klo aku ngebayangin diriku ketika kls 1 SD harus belajar seperti itu, kayaknya gak akan betah deh di sekolah.

So, I discussed this with hubby and we’ve come up with an alternative plan to homeschool. Kalau kurikulum nasional diubah total dan menjadi lebih baik dari sekarang, bolehlah ada pertimbangan untuk dimasukkan ke sekolah negeri atau swasta. Syukur2 kalau ada rezeki lebih untuk afford biaya sekolah yg pakai kurikulum IB (international).. atau siapa tau ada sekolah alam yg buka deket2 rumah sini… (deket: dalam jarak tempuh kurang dari 15 menit pakai mobil).

Tapi.. sepertinya kami semakin hari semakin bertekad untuk mencoba homeschooling Botchan. Dan kalau memang jadi, akan sangat mendukung ketika siapa tau insyaAllah (amin!!!) kami bisa balik lagi ke Matsuyama untuk beberapa lama (selain sekolah umum di Jepang, belajar di rumah jadi tetap jalan). Memang sih, sat ini dia belum juga berusia 2 tahun.. tapi keputusan untuk homeschooling atau tidak butuh perencanaan yg matang dan banyak pertimbangannya. Dan sebagai uji coba, insyaAllah mau dicoba dari umur 3 thn nanti sampai 6 thn.. kalau dirasa cocok bolehlah dilanjutkan hingga selesai SD. Tapi misalnya ada yg dirasakan kurang efektif atau sikon yg kurang mendukung, masih bisa diputuskan ketika akan masuk SD. Jadi dari sekarang saya sibuk baca sana-sini tentang homeschooling dan tetek bengeknya. Banyak… dan beragam…..dan susahnya minta ampun untuk nyari buku ttg homeschooling yg imported (bukannya gak mau baca yg dalam negeri punya, tapi masih bisa dibaca dari website dan milis HS di Indonesia, jadi pinginnya baca dari sumbernya langsung.. nanti bolehlah baca buku yg ditulis oleh penulis dalam negeri). Dari sekarang juga saya udah terdaftar di milis HS untuk Indonesia dan sedang mencari2 komunitas HS di Bogor 🙂

Saya sadar kalau keputusan ini konsekuensinya banyak.. dan berat. I mean, banyak orang tua yg merasa “merdeka” ketika anak2 mereka masuk sekolah, karena dapat tambahan waktu free-time untuk doing other stuff, pursuing hobbies, ngurus adik2 si sulung, or maybe going back to work, etc. And if I will HS, then itu artinya ya saya bener2 full-time mom sekaligus “guru” yg mesti punya lesson-plan dan melakukan evaluasi. Gimanapun juga, di akhir setiap jenjang pendidikan harus ikut ujian penyetaraan untuk ijazah, toh?

Yes, I still have time to find info and learn about this decision that I will make..

Satu hal yg melekat di ingatan adalah quote: “learning is not putting information into a bucket, but the lighting of a fire“.. saya lupa persisnya bunyinya seperti apa dan siapa yg mengatakannya, tapi itulah inti pendidikan buat saya. And I want Botchan to be a life-long learner who loves learning.. dan gak terpatok pada bangku sekolah saja. I want him to be able to explore and learn about his world, and I want him to be HAPPY and ENTHUSIASTIC towards learning. I don’t want to deprive him of his childhood and I want him to ENJOY learning.. not to go to school with a heavy backpack and a heavy heart as well.

Yah, hanya bisa berdoa dan baca bismillah.. semoga Allah tunjukkan jalan yg terbaik, amin 🙂

Posted by: arumchan | January 12, 2011

Because you are my first priority…

I have a dream of building and running my own daycare. Not a luxurious and expensive one, but a standard yet well-rounded one. I think the needs for this daycare is big in this city, with available daycares few and wait-listed. So, you can say that the money is there. And luckily enough, there’s also a possibility of investment in it, if I were to really carry on with my plan. Well, not the full investment– I’d still need to find more invstors, but hey, it seemed like a promising start. But…

As with all businesses, someone has to run it. With a daycare, this is very personal. We’re talking about taking care of other people’s children (as well as mine, so I thought, haha)… so the resposibility is extra huge considering the impact of early childhood care on that child’s well-being and development. Having been in the education area for the past few years, I have confidence and experience in that area…. and I know so well that you have to be all-out once you jump into preschool waters. And I thought I was prepared…

But… I realized that if I were to start this business, I would be there from Monday-Friday, 7am to 6pm– be the first there and the last one out. Childcare is known for its long hours, which include preparation and clean up each day. I enjoy this kind of work, but I’d be missing out on Botchan. Yes, he could very well be in my own daycare, but only for how long each day? He deserves his “home-time”, and who were to take care of him if I have to be at work?

So, after considering carefully the consequences, I’ve decided to temporary postpone this chapter of my dreams in life. I’ll continue on preparing for it, hopefully when Botchan is bigger I can re-open this chapter in a more suitable condition. Though I do this with a heavy heart, I’d be more devastated by the thought of Botchan being in someone else’s care.. because I want to be his mom who’s there when he needs me, who makes him yummy lunches/snacks, who plays with him and watches him grow…

I know these years will go by and you can never return.. as for dreams, they can always wait 😉

Posted by: arumchan | December 29, 2010

Terima kasih, tim Garuda…

Sekarang, sedang berlangsung pertandingan final antara tim Garuda-nya Indonesia vs tim Malaysia. Ini adalah pertandingan final penentuan, dan harus skor 4-0 supaya Indonesia bisa menang. Slim chance, huh?

Terlepas dari itu, saya bisa mengambil banyak hikmah dari sepak terjang timnas kita yg berbaju merah menyala. Karena “kebangkitan” mereka di pertandingan2 sebelumnya, bangkit pula semangat kebangsaan negeri ini. Yang tadinya gak bangga dengan timnas, jadi membeli atribut2 timnas. Yang tadinya gak pernah nonton bareng, malah jadi berbondong2 nonton bareng, baik di stadion maupun di tempat2 nonton lainnya. Yang tadinya gak bangga dengan Indonesia, menurut saya jadi tumbuh bibit2 rasa bangga yang baru terhadap bangsa ini. Ada perasaan bahwa, hey, we’re a part of that team, because we’re Indonesians!

Yah, menang ataupun kalah, pertandingan2 ini mengingatkan pada saya pentingnya mengajarkan sportivitas yang baik terhadap Botchan. Dia yang masih belum mengenal apa artinya “menang” dan apa artinya “kalah” bisa saya siapkan untuk menerima kedua hal tersebut secara wajar. Bahwa segala sesuatu yg dilakukan, dalam semua “arena pertandingan”, haruslah dengan usaha yang keras, latihan yang giat, niat yang lurus, dan penuh kejujuran. Mengingatkan saya juga untuk tidak “buta” terhadap prestasi, bahwa yang harus dihargai lebih adalah usahanya, bukan hasilnya. Kalau hasilnya bagus mengucap syukur dengan rendah hati, pun hasilnya belum maksimal juga harus diterima dengan lapang dada dan fokus pada usaha keras yang telah dilakukan.

As the Japanese say to children who accomplished something, “yoku ganbatta ne!” (you worked hard on this, I’m proud of you) and they don’t really focus heavily on the end results, sembari lalu saja. Dan kemarin baca article tentang hal ini, memang sebaiknya seorang anak itu dipuji atas usahanya yang keras dan bukan pada hasilnya, karena dalam hidup ini, apapun yang terjadi, usaha itulah yang terpenting. Win or lose, yang penting proses mencapai akhir itu bisa memberikan hikmah yang baik untuk diambil.

So, to timnas Garuda…apapun hasilnya 45 menit ke depan, I say thank you. Terima kasih telah memberikan aku pelajaran yang berharga untuk insyaAllah aku ajarkan ke anakku kelak. Yoku ganbatta, ne! Terima kasih atas usaha keras kalian, saya bangga dengan usaha keras yang ditunjukkan selama ini. Semoga ke depannya semakin maju dan terus bisa menyemangati kita semua yang menonton dari layar kaca…

« Newer Posts - Older Posts »

Categories